Be More Assertive !

“Oooh… saya tidak tahu kalau suami saya menyukai hal itu.” Kata seorang ibu di sela-sela konseling beberapa minggu yang lalu. “Selama ini, ia tidak pernah mengatakan hal itu.” Wajahnya tertegun cukup lama, saat saya mengatakan beberapa hal tentang keinginan suaminya. Salah satunya bahwa sejak awal pernikahan sekitar 13 tahun yang lalu, suaminya ingin sekali mengisi waktu lenggang mereka hanya dengan bersantai saja. Seringkali ia ingin mengungkapkan keinginannya untuk melakukan kegiatan seperti hanya duduk di lantai sambil menonton acara televisi atau bersenda gurau. Suami sebenarnya kurang suka melihat kesibukan istrinya sehabis sepulang bekerja. “Ada-ada saja yang dilakukannya… kalo tidak memasak kue untuk dititipkan ke toko-toko…biasanya menambah waktu untuk memberikan les privat dll.”

Di hari yang berbeda seorang istri mengeluhkan sikap suaminya. Suaminya ini sangat murah hati dalam menolong teman-temannya, baik wanita maupun pria. Terkadang ia sampai mengabaikan kepentingannya diri sendiri. Jika badannya sudah kecapekan, akhirnya istrinya yang terkena dampak buruknya. Beberapa kali wanita ini meminta suaminya untuk berani menolak sekiranya ia tidak bisa membantu temannya. Namun si suami menolak, karena merasa tidak nyaman untuk melakukannya.

Beberapa orang terkadang enggan menunjukkan perasaan atau keinginannya yang sesungguhnya, seperti halnya dua contoh di atas. Ada beberapa alasan, namun sering alasannya yang mendasar adalah ingin menghindari terjadinya konflik. Selain itu, berbicara secara terus terang terkadang dianggap menunjukkan sikap memaksa atau cenderung mementingkan kepentingannya sendiri (egois). Sebagian dari kita, ada kecenderungan tidak ingin menunjukkan sifat-sifatnya yang dianggap negatif oleh orang lain. Sikap yang pasif dan tidak berterus terang kadang dianggap dapat mencegah konflik, terutama dalam jangka pendek. Namun jika dibiarkan dalam jangka waktu lama, maka beberapa ketidaksesuaian yang kecil tersebut akan bertumpuk-tumpuk. Sebagai akibatnya akan memunculkan kekecewaan lebih dalam, yang justru dapat memicu konflik yang lebih besar lagi.

Selain itu, orang menjadi enggan untuk berterus terang juga karena takut mendapatkan penolakan. Padahal kita hanya menduga-duga saja apakah bagaimana respon orang lain terhadap kita. Dugaan mendapat penolakan seringkali lebih besar daripada mendapat respon positif. Padahal, bisa saja ketika orang lain mendengarkan penjelasan kita secara tepat, ia akan menerima dan memahami perasaan kita yang sesungguhnya. Sebagai dampaknya, ia akan memberikan respon sesuai dengan harapan dan kebutuhan kita.

Dalam komunikasi, keterampilan untuk menyatakan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan kepada orang lain secara tepat disebut sebagai Asertivitas. Diane Cawood dalam bukunya “Assertiveness for Managers” mengemukakan bahwa asertif adalah mengekspresikan pikiran, perasaan, kebutuhan atau hak-hak yang dimiliki dan bersifat langsung, jujur, dan sesuai, tanpa adanya kecemasan yang tidak beralasan dan kemampunan untuk menerima perasaan atau pendapat orang lain dan dengan tidak mengingkari hak-hak mereka dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Perilaku asertif merupakan bentuk pengembangan hubungan interpersonal yang bersifat memberi (menyatakan kebutuhan, perasaan, dan pikiran secara langsung, jujur, dan dalam kesempatan yang tepat), sekaligus juga menerima (mendengarkan secara aktif apa yang menjadi kebutuhan, pikiran, dan perasaan orang lain).

Perilaku asertif berbeda dengan perilaku agresif. Perilaku agresif juga mengungkapkan keinginannya ataupun perasaannya, namun dengan sikap yang cenderung memaksa orang lain melakukan sesuai keinginannya. Ekspresi yang dikemukakan dalam perilaku agresif justru bersifat melecehkan, menghina, merendahkan, bahkan menguasai pihak lain. Sedangkan kebalikannya adalah perilaku pasif (submissif). Individu yang berperilaku pasif, cenderung tidak berani mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Sebagai akibatnya orang lain tidak memahami kebutuhannya, sehingga memberikan respon yang tidak sesuai. Ada kecenderungan orang yang pasif akan berkeluh kesah di belakang atas ketidakpuasannya terhadap tanggapan orang lain, seperti halnya 2 kejadian di atas.

Seperti juga yang dikatakan Stephen Covey bahwa keterampilan komunikasi merupakan hal yang paling penting dalam menjalin relasi sosial dengan orang lain. Asertivitas merupakan salah satu keterampilan komunikasi yang penting untuk ditingkatkan. Dengan berperilaku asertif maka akan membuat proses komunikasi berjalan dengan efektif serta membangun hubungan yang setara dan saling menghormati.

Please… be more Assertive.. and you’ll get an appropriate response from others.

One response to “Be More Assertive !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s