Zona Nyaman Yang Tidak Nyaman

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa orang teman, berusaha untuk membantu seorang ibu dengan tiga anaknya yang ingin pindah ke tempat yang lebih baik. Sebelumnya ia mengungkapkan keinginan untuk mencari sebuah panti, terutama bagi anak-anaknya, supaya dapat mengikuti pendidikan.  Selama ini, ia tinggal bersama suami dan ketiga anaknya di sebuah kamar sederhana yang disewa dengan harga yang murah. Mereka kami kenal karena sering mencari barang bekas di sekitar tempat kerja kami tersebut. Suami yang menikahinya secara agama (siri), sering mengabaikan kebutuhan mereka. Kebiasaannya berjudi suaminya tidak pernah berkurang, sehingga sebagian besar penghasilan dihabiskan untuk hobinya tersebut.

Singkatnya, kami berusaha mencari sebuah tempat yang diperkirakan dapat memberikan pendidikan lebih baik bagi anak-anaknya. Kami menghubungi sebuah panti yang sudah sering bekerjasama dengan tempat kerja kami. Panti tersebut bersedia menerima ketiga anaknya, bahkan dengan ibunya juga. Ketiga anaknya akan mendapatkan beasiswa pendidikan sampai perguruan tinggi yang didanai oleh sebuah organisasi dari luar negeri. Sedangkan ia akan diberikan tugas untuk membantu di tanah pertanian milik panti tersebut.

Kami sengaja mengajak ibu dan ketiga anaknya tersebut ke panti untuk mendaftar secara resmi. Sepulang dari panti tersebut, ia tampak semakin mantap dengan rencananya pindah ke panti tersebut. Namun pada hari yang dijanjikan, ia tidak datang ke tempat kerja kami, seperti yang sudah disepakati. Kami berencana untuk berangkat bersama dari kantor kami. Padahal tas yang berisi barang-barang ibu dan ketiga anaknya sudah kami bawa sebelumnya, supaya memudahkannya. Kami menunggu sampai beberapa jam, sampai akhirnya berkesimpulan bahwa ia tidak jadi datang. Kemudian kami meminta salah seorang mahasiswa yang mengenalnya dengan baik, untuk datang ke tempat tinggalnya. Kami ragu jika salah seorang dari kami yang datang, ia merasa takut dan semakin menjauhi kami. Akhirnya kami mengetahui bahwa ia tidak jadi pindah karena di larang oleh suaminya. Pria yang sudah menikah sebanyak lima kali tersebut rupanya marah dengan rencana istri dan anak-anaknya ini meninggalkannya.

Kondisi serupa mungkin pernah terjadi pada diri kita. Beberapa dari kita mungkin pernah mengalami ketakutan untuk keluar dari suatu tempat atau kondisi yang sudah lama menjadi bagian dari kita. Situasi maupun kondisi tersebut mungkin sudah tidak nyaman bagi kita, namun kita takut keluar dari keadaan tersebut. Ada banyak alasan mengapa orang tidak mau keluar dari situasi saat ini. Salah satunya mungkin karena sudah merasa terbiasa dengan ketidaknyamanan, atau justru karena takut untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru. Situasi atau kondisi baru mungkin tampak lebih baik, namun pasti membutuhkan penyesuaian baru yang mungkin juga berat. Salah seorang teman saya memberikan istilah sebagai takut keluar dari zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman.

Situasi yang dialami oleh ibu tersebut mungkin demikian. Pada satu sisi, ia ingin kehidupan lebih baik dengan anak-anaknya. Namun ia takut harus menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Keadaan saat ini mungkin tidak lebih baik, namun ia sudah menjalani kesulitan ini dalam waktu yang cukup lama, sehingga sudah merasa biasanya dengan penderitaan. Ia mungkin sudah mengalami kenyamanan dalam situasi yang sebenarnya tidak nyaman.

Beberapa orang terjebak dalam zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman, karena sudah menjadi bagian hidupnya. Beberapa orang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat dengan pasangannya. Sebagian lagi terjebak dalam situasi kerja yang tidak baik. Atau beberapa remaja terjebak dalam pergaulan dengan rekan sebaya yang tidak sehat.

Namun kembali lagi, keluar dari situasi yang telah menjadi bagian darinya, selalu menimbulkan pertanyaan, “apakah hidup akan lebih menyenangkan jika keluar dari situasi saat ini?’.  Kekhawatiran akankah mendapat pasangan yang lebih baik, tempat kerja yang memperlakukannya dengan lebih baik ataukah situasi yang lebih sehat, menjadi pertimbangan takutnya bergerak dari zona saat ini.

Individu-individu yang berada dalam situasi ini sebenarnya membutuhkan pertolongan. Pada dasarnya mereka sudah tahu dengan situasi saat ini tidak baik, namun mereka takut melangkah. Mereka membutuhkan penguatan untuk keluar dari sarang mereka saat ini. Seorang penolong dapat memberikan dukungan atau motivasi untuk menguatkan tindakannya keluar dari zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman.

One response to “Zona Nyaman Yang Tidak Nyaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s