Temple Grandin : A Biopic of An Autistic Woman

” …They will be very calm. Nature is cruel but we don’t have to be. We owe them some respect. I touched the first cow that was being stunned. In a few seconds it was going to be just another piece of beef, but in that moment it was still an individual. It was calm and then it was gone. I became aware of how precious life was… ” 

“Your child is clearly autistic”, Kalimat pendek yang diucapkan dokter membuat seorang ibu terperangah, antara kaget dan kurang memahami makna kata, “Autistic… I am not familiar?”. Dokter itu kemudian menambahkannya, “ She is an infantile schizophrenia”. Di sudut sebuah sofa, seorang anak berusia sekitar 4  tahun, duduk membisu sambil mengamati garis dan gambar pada kain jendela. Pada masa itu, istilah autistic belum banyak dikenal oleh masyarakat secara umum. Para ahli mengelompokkannya ke dalam kategori schizophrenia pada masa kanak-kanak atau sering disebut sebagai infantile schizophrenia. Dokter tersebut memberikan saran untuk memasukkan anak tersebut ke rumah sakit jiwa.

Demikian salah satu adegan dari film Temple Grandin. Kisah ini dimulai dengan kedatangan Temple Gandrin ke rumah bibinya. Paman dan bibinya mengelola sebuah peternakan sapi di daerah Arizona. Ketika itu merupakan liburan musim panasnya setelah ia menyelesaikan pendidikan tingkat atasnya. Ia terheran – heran, ketika melihat sapi-sapi yang dipaksa masuk ke sebuah alat yang cara kerjanya adalah dengan menekan/menjepit bagian tubuh sapi tersebut. Secara alami, binatang tersebut merasa takut dan mengalami ketegangan ketika mendegar suara yang keras. Ketika ketakutan, mereka akan berhenti di lorong. Peternak biasanya akan memberikan terapi kejut, supaya binatang tersebut berjalan kembali menuju ke ujung lorong. Di ujung lorong ada alat penekan. Setelah sapi mendapat tekanan, ia akan diberikan suntikan berupa vaksin atau diberikan tanda tertentu (ditandai) oleh peternak. Temple Grandin mengamati dan menarik kesimpulan, bahwa binatang tersebut juga memiliki kepekaan tersendiri dan membutuhkan perlakuan yang lebih baik.

Suatu kali ia mengalami ketegangan, saat melihat hal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika ia akan masuk ke kamarnya, tulisan “Temple Grandin’s Room” yang tertempel di pintu kamarnya, terlepas dan jatuh. Dari sudut pandangnya, ia melihat ada keanehan dan perubahan di dalam kamarnya. Kondisi ini membuatnya ketakutan. Lalu berlari ke alat penjepit sapi yang berfungsi untuk menurunkan ketegangan binatang tersebut. Ia masuk ke dalamnya dan meminta bibinya untuk memberikan tekanan pada alat itu. Secara perlahan, ketegangan yang dialami oleh Temple menjadi berkurang. Pada akhirnya ia membuat alat ini yang selalu digunakan untuk mengatasi ketegangannya. Alat penekan itu disebut sebagai “Mesin Pelukan” atau “Hug Machine”. Ia merancang “Hug Machine” bagi sapi secara mendetail. Lorong-lorong dibuat dengan dinding yang kuat, tanpa ada suara yang keras dan tanpa alat kejut listrik. Ujung lorong sebagai mesin penekan, dibuat dengan dinding yang berbahan lebih lembut. Selain untuk binatang ternak, “mesin pelukan” ini dirancang untuk penderita autism di sekolah milik Temple Grandin. Ketika mengalami ketegangan, anak-anak akan masuk ke “Mesin Pelukan” ini. Mereka akan menekan tombol penekan untuk membuat tekanan yang tepat atau sesuai dengan kebutuhan mereka. Bagi anak penderita autism, pelukan orang terasa aneh, namun ia dapat menurunkan ketegangan melalui “Hug Machine” ini.

Dr.Carlock, seorang guru Science di sekolah menengah atas, yang pada awalnya mampu melihat kemampuan Temple Grandin di bidang Science yang sangat besar. Ia memiliki kemampuan photographic memory yang luar biasa, sehingga segala sesuatu mudah terekam secara visual. Selain itu, Temple Grandin juga memiliki kemampuan mengukur ruang dan memotret visual dalam kepalanya dengan tepat dan rinci. Kemampuan ini yang membawanya mampu menjadi Doctor of Animal Science, pengarang buku best seller, konsultan, dan juga seorang pengajar di Colorado State University bernama Temple Grandin.

Sebagai seorang yang mengalami gangguan autism, ia melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, yang tentu saja berbeda dengan cara pandang orang yang tidak mengalami hambatan tersebut. Ia memiliki gerakan-gerakan stereotype dan cenderung diulang-ulang. Selain itu, ia menolak sentuhan, baik dengan keluarga, teman sejenis maupun lawan jenis. Intonasi bicaranya cenderung datar, serta mengalami kesulitan ketika harus berkomunikasi dua arah. Di samping itu, ia sensitive sekali terhadap suara. Kemampuan berbicaranya baru muncul saat usianya 4 tahun. Ibunya berusaha dengan keras untuk melatihkan kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimilikinya. Ia menolak untuk membawa Temple Grandin ke rumah sakit jiwa.

Perilaku khas lainnya pada gangguan ini yang juga muncul pada Temple Grandin adalah kesulitannya dalam menjalin relasi dengan orang lain. Ia tampak aneh bagi kebanyakan orang, demikian juga ia merasa tidak mampu memahami orang lain. Sepanjang film ini, digambarkan bagaimana konflik ataupun ketegangan yang timbul antara Temple Grandin dengan orang-orang di sekitarnya yang tentu saja memiliki cara pandang dan perilaku yang berbeda. Dalam sebuah film documenter tentang anak autism, yang berjudul The Invisible Wall Autism, Temple Grandin mengungkapkan bahwa hubungan dengan orang lain yang melibatkan emosi atau perasaan yang lebih dalam, terasa aneh baginya. Ia merasa ada beberapa hal yang tidak ada dalam dirinya. Ia lebih memilih pendekatan tanpa emosi dan hubungan yang tidak intim. Kebahagiaannya berbeda dengan kebahagian orang lain. Dunianya berputar pada kehidupan intelektualnya, yaitu pekerjaan dan karirnya.

Temple Grandin lahir di Boston, Massachusetts pada 29 Agustus 1947. Berlatar belakang Amerika pada tahun 1970-an, kisah ini berdasarkan pada buku Emergance karya Temple Grandin dan Margaret Scariano, juga buku Thinking in Pictures karya Temple Grandin, mencoba membawa persepsi atas dunia yang sangat berbeda dari sudut pandang orang yang mengalami gangguan perkembanga pervasive. Kisah ini diproduksi oleh HBO, dan diperankan oleh Claire Dane dengan cemerlang, sehingga mendapat anugerah Golden Globe Award untuk Best Actress kategori Miniseri atau film yang diproduksi televisi. .

3 responses to “Temple Grandin : A Biopic of An Autistic Woman

  1. This is a new inspiration for us. It was incredible. thanks for sharing. do not forget your visit to my blog to give me a critique and commentary. I am happy to exchange information and knowledge with you. success for you.

  2. Pingback: Guru Tingkatkan Fungsi Traktor | Link Journal

  3. Pingback: Sebuah Kisah tentang si Tukang Emas « ONOVsiahaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s