Silence : Ketika Tuhan Membisu

Kegagalan, penderitaan, penyakit, penolakan dan bencana alam bisa menimpa diri siapa saja. Penderitaan dan kesepian terkadang mengerogoti hati, iman dan jiwa. Rintihan pilu doa-doa yang dinaikkan kepada Sang Maha Kuasa seperti tertiup angin dan hilang begitu saja. Tuhan seperti membisu melihat penderitaan kita. Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul,  adalah ”Mengapa Tuhan membisu?”, “Mengapa Dia Yang Maha Kuasa tidak berbuat apa-apa?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul berulang kali dalam novel yang ditulis oleh Shusaku Endo. Seperti yang diteriakkan oleh Ferreira dengan suaranya yang meninggi lebih terdengar seperti geraman, “ Dengarlah! Aku ditempatkan di sini dan aku mendengar suara orang-orang itu dan Tuhan tidak berbuat apa-apa. Tuhan tidak bertindak sedikitpun. Aku berdoa dengan sepenuh kekuatanku. Tapi Tuhan tidak berbuat apa-apa.”

Kita mungkin pernah berteriak seperti Ferreira. Ketika mengalami penderitaan, kesakitan, kesepian dan kegagalan. Atau kita pernah menggugat Tuhan ketika melihat kemiskinan, penderitaan, bencana alam serta kesakitan di sekitar kita. Setiap orang mungkin pernah mengalami pergumulan dan pertarungan antara iman dengan diri sendiri. Benarkah Tuhan memang tidak bertindak apapun?

Trisno S. Sutanto dalam Kompas 12 April 2009 menuliskan bahwa novel yang berjudul Silence ini tentang kebisuan Tuhan. Bahwa problem teodise itulah yang terus muncul pada hampir sebagian besar novel Silence. Kebisuan itulah, bukan pengalaman di ”lubang penyiksaan” mengerikan, yang membuat Ferreira meninggalkan imannya. Sementara pada Rodrigues, sebagai protagonis Endo, kita menemukan sikap lebih bernuansa. Rodrigues juga mengalami pengalaman kebisuan Allah yang mengerikan, dan bahkan menginjak-injak fumie, gambar wajah Yesus atau Bunda Maria di atas lempengan perunggu, bukti penyangkalan imannya. Apa yang mendorong dia menginjak fumie justru suara Kristus. ”Injaklah! Injak!” kata wajah di fumie itu padanya. ”Aku lebih tahu daripada siapa pun tentang kepedihan di kakimu. Injaklah! Aku lahir ke dunia memang untuk diinjak-injak manusia. Untuk menanggung penderitaan manusialah Aku memanggul salibku.”

Berlatar belakang Jepang abad ke-17, periode Edo, Silence mengisahkan perjalanan nasib Sebastian Rodrigues, Yesuit Portugis yang dikirim ke Jepang untuk membantu Gereja setempat dan untuk mencari tahu keadaan mantan gurunya, Ferreira, yang dikabarkan telah murtad karena tidak tahan  menanggung siksaan. Pada zaman ketika Kristianitas dilarang keras di Jepang, dan para penganutnya dikejar-kejar, dipaksa menjadi murtad, dan dibunuh, bukan hal mudah bagi Rodrigues untuk bertahan hidup, apalagi Tuhan yang selama ini dianggapnya sumber kasih seolah bungkam dan hening, tidak berbuat apa-apa.

Dalam situasi seperti itu, mungkin kita juga pernah menginjak-injak wajah Kristus, seperti yang diungkapkan Kichijiro dengan berlinang air mata,  “Bapa, saya telah mengkhianatmu. Saya telah menginjak-injak gambar Kristus. Di dunia ini ada orang yang kuat dan ada yang lemah. Yang kuat tidak pernah menyerah walaupun disiksa, dan mereka masuk surga. Tapi bagaimana dengan orang-orang seperti saya ini, yang dilahirkan lemah, orang-orang yang ketika disiksa dan diperintahkan untuk menginjak-injak gambar suci…”

Pada akhirnya, pertanyaan yang utama adalah: sanggupkah manusia mempertahankan keyakinannya di tengah masa-masa penuh penganiayaan? Dan benarkah Tuhan hanya diam berpangku tangan melihat penderitaan?

Seperti pertarungan hati Rodrigues, “Hentikan! Hentikan! Tuhan, sekaranglah kau harus menghentikan keheninganmu. Kau tidak boleh bungkam. Buktikan kau adil, maha baik, penuh kasih. Kau harus membuka suara, untuk menunjukkan pada dunia bahwa Kau Maha Kuasa.”

Dan pernahkah kita juga berani bertanya pada diri kita sendiri apakah kita mencintai-Nya hanya ketika semua keinginan kita dipenuhi, ketika hidup kita berjalan dengan baik. Apakah kita mencintai-Nya hanya ketika Dia menjawab semua doa-doa kita?

“Tuhan, aku benci kebungkamanmu”. Demikian dialog batin Rodrigues  di akhir novel ini.

“AKU tidak bungkam. AKU ikut menderita di sampingmu.” Demikian kata Tuhan dengan suara Nya yang penuh belas kasihan.

Selamat Merayakan Kasih Pengorbanan Nya.

2 responses to “Silence : Ketika Tuhan Membisu

  1. Sudah selesai!

    Itu kata terakhir dari kayu salib.
    Kini raja-raja sudah tak bertaring dan diktator dipinggirkan.
    Manusia mulai bisa membedakan keinginan Roh Kudus dan Roh tak Kudus.

    Salam Paskah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s