Depresi Pada Masa Kanak-Kanak

Pada masa kanak-kanak, perilaku yang berhubungan dengan depresi seringkali lebih kompleks jika dibandingkan dengan pada orang dewasa, hal ini menyebabkan diagnosanya menjadi lebih sulit. Banyak dari anak yang depresi menunjukkan agresi, kecemasan, prestasi yang buruk di sekolah, perilaku antisocial, dan juga hubungan yang buruk dengan teman sebaya.

John W. Santrock mengatakan bahwa depresi merupakan gangguan mood (suasana hati) dimana seseorang merasa tidak bahagia, tidak bersemangat, memandang rendah diri sendiri dan merasa sangat bosan. Individu merasa selalu tidak enak badan, gampang kehilangan stamina, selera makan yang buruk, tidak bersemangat dan tidak memiliki motivasi.
Penyebab timbulnya depresi pada masa kanak-kanak adalah biologis, kognitif dan lingkungan. John Bowlby menyatakan bahwa attachment yang insecure, kurangnya cinta kasih dan afeksi dalam pengasuhan anak, atau kehilangan orang tua pada masa kanak-kanak mengakibatkan anak mengembangkan skema kognitif yang negative. Skema ini akan terus dibawa dan mempengaruhi bagaimana pengalaman yang akan datang diinterpretasikannya. Ketika pada pengalaman yang akan datang anak juga mengalami kehilangan tertentu, anak akan menginterpretasikan kehilangan ini sebagai kegagalan dalam membina hubungan positif dan biasanya hal ini akan menyulut timbulnya depresi.

Dalam pandangan kognitif Aaron Beck, individu akan depresi jika pada masa awal perkembangannya mereka membentuk skema kognitif yang ditandai dengan devaluasi diri dan tidak percaya diri mengenai masa depan. Mereka biasanya memiliki pemikiran-pemikiran yang negative dan pemikiran negative ini akan meningkatkan pengalaman negative dari individu tersebut. Anak yang depresi akan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Dalam pandangan Beck, depresi pada anak dilihat sebagai hasil perkembangan dari dua kecenderungan kognitif, yaitu : a). anak terlalu memperhatikan petunjuk negative di lingkungan, b). anak mengindentifikasi diri mereka sebagai sumber dari kejadian.

Teori dari Martin Seligman mengenai depresi adalah learned helplessness. Yaitu ketika seorang individu mengalami pengalaman negative hal tersebut, seperti ketika dihadapkan dengan stress dan rasa kesakitan yang panjang, mereka akan lebih mungkin untuk mengalami depresi. Depresi akan terjadi setelah suatu peristiwa negative dimana individu menjelaskan peristiwa tersebut dengan atribusi yang menyalahkan diri sendiri. Mereka menyalahkan diri sendiri karena menyebabkan peristiwa tersebut. Dengan model penjelasan seperti ini akan menghasilkan ekspektasi bahwa tidak ada perilaku yang dapat dilakukan untuk mengontrol hasil dari peristiwa yang sama di masa yang akan datang, yang menyebabkan ketidakberdayaan, tidak ada harapan, sikap pasif dan depresi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s