Bicara Cinta : Love & Belonging

Abraham Maslow menempatkan kebutuhan cinta sebagai urutan ketiga dari hierarki atau piramida kebutuhannya. Ia menyebutkannya sebagai kebutuhan akan love & belonging. Aspek ini melibatkan hubungan emosional seperti friendship, intimacy dan family. Setiap individu membutuhkan perasaan untuk memiliki (a sense of belonging) dan perasaan untuk diterima (a sense of acceptance).  Mereka juga membutuhkan perasaan untuk dicintai dan mencintai (need to love & be loved), baik secara sexual maupun nonsexual dari orang lain. Tanpa aspek ini, individu menjadi rentan terhadap kesepian, kecemasan sosial dan depresi.

Bagi Abraham Maslow, hanya setelah kebutuhan fisiologis  (physiological needs), seperti kebutuhan makanan, serta kebutuhan keamanan (safety needs) terpenuhi, maka seorang  individu akan dapat memenuhi kebutuhannya akan cinta dan afiliasi. Ketika individu dapat memenuhi kebutuhan afiliasi dan kebutuhan penghargaan, maka ia dapat bergerak ke atas piramida kebutuhan ini, ia lebih mampu mencintai dan mengaktualisasikan dirinya secara lebih utuh.

Abraham Maslow mendeskripsikan dua tipe cinta yaitu being love atau disebut juga sebagai “B-Love”, dan deficiency love yang disebut juga sebagai “D-Love”. Deficiency love bersifat memikikan diri sendiri dan tergantung, sedangkan Being Love bersifat tidak mementingkan diri sendiri dan peduli dengan kebutuhan orang lain. Individu dengan B-love lebih teraktualisasi diri dan membantu partnernya mencapai aktualisasi diri. Perspektif ini mengimplikasikan bahwa orang memiliki orientasi kepribadian yang berbeda untuk mencintai, bahwa orang yang teraktualisasi mencitai dengan cara yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri (B-Love), namun seorang yang tergantung dan tidak matang, mengalami D-Love. Beberapa individu yang tidak matang yang mencari D-Love hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Pada kenyataannya, riset mengenai perkawinan yang berhasil menemukan bahwa partner yang mencapai perkawinan yang bahagia dan bertahan lama adalah partner yang melihat pasangannya sebagai individu yang peduli, berkepribadian responsive dan bertindak sebagai kawan yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s