Bicara Cinta : Pendekatan Neo-analitik

Erik Erikson berfokus pada keenam tahap perkembangan psikoseksual, ketika individu mencapai usia sekitar duapuluh tahun ke atas  (dan telah mencapai kedewasaannya) yaitu pada saat cinta yang matang berkembang. Erik Erikson mencatat bahwa selama tahap ini, Intimacy vs Isolation, seorang dewasa muda siap untuk berkomitment pada yang lain, membentuk sebuah relasi akrab dan mengalami cinta. Menurut Erikson, hanya mereka yang menemukan identitasnyalah yang akan mengalami intimacy, dan cinta yang sebenarnya. Sementara mereka yang identitas egonya tidak lengkap akan tetap terisolasi atau terlibat dalam relasi yang keliru seperti aktifitas seksual bebas  atau hubungan yang dangkal. Erikson memandang cinta sebagai hasil dari perkembangan yang sehat dan normal.

Suatu pendekatan modern dari Phillip Shaver dan rekan-rekannya juga berdasarkan pada pemahaman pada perkembangan seorang anak. Shaver menggunakan model-model kelekatan yang dipelajari ketika anak-anak untuk menjelaskan perbedaan dalam kualitas relasi dewasa. Gagasannya adalah bahwa hakekat relasi kelekatan pada masa kanak-kanak sampai taraf tertentu akan mencerminkan di relasi romantic di kemudian hari. Cara berpikir ini secara langsung diturunkan dari teori Neo-analitik dari Karen Horney, yang melibatkan kecemaan dasar yang tidak terselesaikan dan dari berbagai studi terkait yang menyangkut dasar-dasar biologis dari kelekatan bayi, seperti kelekatan yang telah diteliti oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth.

Menurut Shaver dan koleganya, terdapat tiga gaya kelekatan romantk yaitu :

a)     Secure Lovers, yang secara mudah membentuk relasi dekat dengan orang lain dan membiarkan orang lain dekat dengannya.

b)     Avoidant Lovers, yang merasa tidak nyaman ketika mereka dekat dengan orang lain atau ketika orang lain dekat dengannya. Tipe ini cenderung memiliki masalah untuk mempercayai dan dipercayai oleh orang lain. Biasanya terjadi pada anak-anak dari keluarga alkoholik.

c)      Anxious-Ambivalent Lovers, yang ingin dekat namun merasa tidak aman dengan relasinya dan barangkali takut jika partnernya merasa putus asa atau kecewa dengan relasi yang terjalin.

Sekitar setengah dari orang-orang yang diteliti digolong dalam Secure Lovers, sedangkan sisanya digolongkan dalan Avoidant Lovers dan Anxious-Ambivalent Lovers. Gaya kelekatan inividu dapat diprediksi dari kualitas relasi mereka dengan orang tuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s