Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis (By The River Piedra I Sat Down and Wept)

“Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Ada legenda bahwa segala sesuatu yang jatuh ke sungai ini -dedaunan, serangga, bulu burung- akan berubah menjadi batu yang membentuk dasar sungai. Kalau saja aku dapat mengeluarkan hatiku dan melemparkannya ke arus, maka kepedihan dan rinduku  akan berakhir, dan akhirnya aku pun melupakan semuanya.

Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Udara musim dingin membuat air mata yang mengalir di pipiku terasa dingin, dan air mataku menetes ke air sungai dingin yang mengelegak melewatiku. Di suatu tempat entah dimana, sungai ini akan bertemu sungai lain, lalu yang lain lagi, hingga –jauh dari hati dan pandanganku– semuanya menyatu dengan lautan. Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar kekasihku tak pernah tahu bahwa suatu hari aku pernah menangis untuknya. Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar aku dapat melupakan Sungai Piedra, biara, gereja di Pegunungan Pyrenee, kabut, dan jalan-jalan yang kami lalui bersama. Aku akan melupakan jalan-jalan, pegunungan, dan padang-padang mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi yang takkan pernah menjadi kenyataan.” Demikian prolog yang ditulis Paulo Coelho untuk menggambarkan cinta dengan kepedihannya.

–∞∞∞∞∞–

“Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.” Demikian yang semula dipercayai oleh Pilar. Pilar adalah seorang gadis yang tumbuh dewasa di sebuah kota. Tumbuh selayaknya seorang gadis dalam masa mudanya. Meniti studinya, berjuang dalam karirnya serta merangkai cinta bersama kekasih-kekasih hatinya. Tetapi di sisi hidupnya,  ia memiliki ikatan kasih dengan teman pria masa kecilnya. Sepucuk demi sepucuk surat membawa kepada rangkaian hubungan kasih yang terpatri di dalam angannya. Dari ribuan kota kekasih hatinya ini mengirimkan cerita-cerita tentang kehidupannya.

Tapi apa yang terjadi ketika ia bertemu dengan kekasihnya setelah sebelas tahun?? Waktu menjadikan Pilar seorang wanita yang tegar dan mandiri. Sedangkan kekasih pertamanya telah menjelma menjadi seorang pemimpin spiritual yang tampan dan kharismatik. Dengan sejuta harapan, dibawa dirinya untuk melakukan  perjalanan selama 4 jam dari Zaragoza ke Madrid. Hanya untuk kembali mengenang masa lalu, mendengarkan suara pria dari masa lalunya, menatap wajah tampan pria dari masa lalunya. Pertemuan setelah sebelas tahun tersebut membawanya ke dalam petualangan dalam memahami cinta dan kehidupan. Pilar telah belajar mengendalikan perasaan-perasaannya dengan sangat baik, sedangkan kekasihnya memilih kehidupan agama sebagai bentuk pelarian bagi konflik-konflik batinnya. Perjalanan tidak mudah, sebab dipenuhi oleh sikap menyalahkan dan penolakan yang muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun terkubur dalam-dalam di hati mereka. Dan pada akhirnya, di tepi sungai Piedra, cinta mereka sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan oleh kehidupan.

–∞∞∞∞∞–

Buku “By The River Piedra I Sat Down and Wept” ini bercerita tentang arti pentingnya penyerahan diri. Cerita pada tokoh-tokoh dalam buku ini menggambarkan tentang konflik-konflik yang kita hadapi dalam perjalanan mencari cinta.  Paulo Coelho mengatakan bahwa cepat ataupun lambat, kita harus menghadapi ketakutan kita, karena jalan spiritual hanya dapat ditempuh melalui pengalaman sehari-hari akan cinta.Dalam pengantarnya, Paulo Coelho melukiskan bahwa terkadang orang merasa menderita karena cinta yang sia-sia. Kita menderita karena telah memberikan lebih dari yang kita terima. Kita menderita karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kita menderita karena kita tidak dapat memaksakan kehendak kita sendiri. Namun sebenarnya tidak ada alasan untuk menderita, sebab dalam setiap  cinta ada benih pertumbuhan diri. Semakin kita mencintai, semakin kita dekat dengan pengalaman spiritual. Mereka yang benar-benar dicerahkan dan jiwanya diterangi oleh cinta akan sanggup mengatasi setiap rintangan dan prasangka jamannya. Mereka dapat bernyanyi, tertawa dan berdoa dengan lantang ; mereka menari dan mengalami apa yang oleh Santo Paulus disebut “Kegilaan yang Kudus”. Mereka bahagia, karena orang-orang yang mencintai akan menakhlukkan dunia dan tidak takut akan kehilangan. Cinta sejati adalah penyerahan diri yang seutuhnya.

Akhirnya seperti Thomas Merton pernah mengatakan bahwa, pada dasarnya kehidupan spiritual adalah mencintai. Kita tidak mencintai demi melakukan kebaikan atau untuk menolong dan melindungi seseorang. Kalau sikap kita seperti itu, kita menjadikan orang lain sebagai objek dan kita mengganggap diri kita orang yang bijaksana dan murah hati. Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya.

4 responses to “Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis (By The River Piedra I Sat Down and Wept)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s