Anak Bajang Menggiring Angin

“Apakah artinya samudra yang luas dan dalam, bila cinta ingin mengarungi dan terjun di dalamnya, Kawanku?” tanya Anila dalam lagunya. Serentak para kera berhenti, sambil menari-nari mereka pun menjawab nyanyian Anila.

Samudra itu akan menjadi telaga, dan cinta akan menjadi sepasang golek kencana di permukaan airnya. Hilanglah kedalaman lautan, musnahlah luas samudra, dan mandilah sepasang golek-kencana, bersiram-siraman dengan air telaga.”

“Apa artinya kedua daratan yang jauh terpisah, bila cinta hendak mempersatukannya, Kawanku?” tanya Cucak Rawun.

“Daratan itu akan menjadi sejengkal tanah karena sayap cinta. Siapakah yang dapat terbang seperti sambaran halilintar kecuali cinta? Jangankan daratan di dunia, surga pun dalam sekejap akan disentuhnya , bila cinta sudah terbang dengan sayapnya,” sahut para kera menyambut nyanyian Cucak Rawun.

Inilah hari-hari cinta yang dikhayalkan para wanita. Pencuri hati seakan sudah dalam hatinya. Bunga-bunga rangin menderita sakit cinta akan lebah-lebah yang sedang mendengung-dengung di atas pohon beringin. Merak betina memanggil-manggil, suaranya bagaikan penderita cinta yang memetik gending dengan curing.

–$$–

Sepenggal dialog tentang cinta ini tertulis dengan indah dalam karya sastra Anak Bajang Menggiring Angin. Sindhunata menuliskan kembali kisah Ramayana dengan bahasa sastra yang indah serta penuh makna kehidupan.  Penggalan cerita didalamnya syarat akan kisah anak manusia mengenai cinta yang terkadang bias gender, penderitaan yang singgah dalam hidup, kekuasaan yang membutakan naluri, persahabatan yang mewarnai jalinan hidup, dosa-dosa turunan yang akhirnya harus ditanggung juga oleh keturunan-keturunannya, dan kerendahan hati di tengah segala kepalsuan hidup. Adegan demi adegan mengalir seperti perjalanan manusia dalam mengarungi hidup. Setiap pemaknaan hidup pada akhirnya akan terkaji dalam tujuan hidup yang diyakininya.

Seringkali manusia mengandalkan kekuatannya sendiri, mereka lupa bahwa ada kekuatan yang maha Agung. Manusia mengira bahwa hanya dengan akal budi mereka sendiri untuk mencapai kebahagiaan yang abadi itu. Seperti yang dilakukan oleh Wisrawa ketika hendak mencapai Sastra Jendra. Akhirnya perjuangannya gagal oleh hawa nafsu keinginan daging sebagai manusia. Pada saat itu, terdengar suara Ilahi, “Anakku, kau berdua mengira, hanya dengan budimu kau dapat mencapai kebahagiaan yang abadi itu. Kau berdua lupa, bahwa hanya dengan pertolongan yang ilahi, baru kau dapat cita-cita mulia itu. Manusia memang terlalu percaya pada kesombongannya, lupa bahwa kesombongannya yang perkasa hanyalah setitik air di laut kelemahannya. Tanpa bantuan yang ilahi, kau pasti tenggelam lagi ke dalam lautan kelemahanmu itu.”

–$$–

Pada akhirnya, setiap perjalanan hidup manusia membutuhkan cinta. Seperti yang digambarkan oleh Wisrawa, “Cinta menuntun mereka melewati jalan-jalan sempit penuh duri, tapi cinta membawa mereka melewati padang-padang terang bulan. Cinta menjerumuskan mereka ke dalam jurang-jurang dalam, tapi cinta mengangkat mereka ke puncak gunung kembar dimana berdiri pohon ringin kembar. Cinta menyeret mereka masuk ke pondok yang hampir rubuh bila dilihat dari luar, tapi begitu tiba di dalam mereka berada dalam balairung yang dihampari permadani yang tersulam aneka bunga-bungaan. Begitulah Sukesi, dalam cinta kebahagiaan dan penderitaan itu bersatu, lebur menjadi kehidupan.”

Bahkan, terkadang dalam cinta, perpisahan dan penderitaan justru menjadikannya semakin agung. Seperti Shinta yang mengalami perpisahan dan penderitaan namun menjadikannya lebih agung. Bahkan ketika ego Rama sebagai seorang pria meragukannya.

“Adakah perpisahan telah menjadikan Shinta segala-galanya? Adakah penderitaan telah mengubahnya menjadi keindahan yang tak terkatakan rupanya? Dan mengapa perpisahan menjadi perjumpaan, penderitaan menjadi kebahagiaan, kalau bukan cinta yang tak mengenal perpisahan dan perjumpaan, penderitaan dan kebahagiaan? Cinta memang kaya rahasia pada dirinya, ia lebih daripada waktu yang mengandung perpisahan dan perjumpaan, ia lebih daripada dunia yang kaya dengan penderitaan dan kebahagiaan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s