Mengampuni

Kepahitan dan peristiwa-peristiwa yang penuh kepedihan membuat orang sukar mengampuni. Banyak orang yang mengijinkan atau membiarkan peristiswa  tertentu atau orang lain, menyakiti dirinya. Mereka terbelenggu dengan kepedihan dan luka batin itu. Kepedihan yang terpendam secara perlahan akan menggerogoti jiwa kita, sehingga menimbulkan emosi yang negative dan kerusakan mental.

Julianto Simanjuntak & Roswitha Ndraha, dalam bukunya Mencintai Hingga Terluka, memaparkan bahwa orang yang terluka cenderung memiliki ingatan yang tajam tentang persoalan yang menyakitkan hingga detailnya. Mereka mencatat setiap serangan yang ditujukan kepadanya dan siap memperlihatkan kepada orang lain betapa mereka telah terluka. Dari luar mereka kelihatan tenang dan sabar, tetapi di bagian dalam mereka menyemburkan dorongan perasaan yang meledak-ledak. Orang yang terluka menyimpan dendam mereka secar terus menerus. Mereka merasa dilukai sedemikian rupa, sehingga membuat mereka tersingkir dari kebutuhan untuk mengampuni.

Seorang agamawan pernah mengatakan ada dua hal yang membuat orang terluka di luar dirinya sendiri, yaitu kesalahan yang dilakukan individu lain dan kesalahan publik atau sistem. Ketika orang lain menyakiti kita, akan lebih mudah bagi kita untuk memberikan pengampunan, dibandingkan terhadap kesalahan yang dilakukan secara kelompok (publik). Kesalahan yang dilakukan oleh kelompok tertentu atau disebut sebagai dosa publik, memberikan akibat yang lebih mendalam, tanpa secara konkret kita ketahui subjek utamanya. Misalnya saja dalam kasus korban lumpur Lapindo atau korban kerusuhan Mei 1998.

Namun apapun penyebabnya, kepahitan lebih sekedar panadangan negative terhadap hidup. Kepahitan merupakan kekuatan yang merusak relasi kita dengan siapapun, tetapi juga terutama dapat menghancurkan diri kita sendiri. Mereka yang terluka cenderung menyendiri, karena tidak dapat mempercayai orang lain. Ia menjadi pribadi yang sulit dikritik, namun suka sekali memberikan kritik kepada orang lain.

Pengampunan, menurut Meninger, adalah sebuah ketetapan hati yang dinyatakan tidak ada gunanya lagi membalas dendam. Sikap itu dapat pula diartikan sebagai melepaskan semua emosi negative yang berkaitan dengan peristiwa di masa lampau. Johann Christof Arnold, dalam bukunya Why Forgive, berkata bahwa, “memaafkan adalah pintu perdamaian dan kebahagiaan. Pintu itu kecil, sempit dan tidak dapat dimasuki tanpa membungkuk.” Hati yang tidak mau memaafkan seperti penjara yang membelunggu jiwa seseorang. Penjara itu bersifat kejam karena merampas kebahagiaan hidup. Tindakan mengampuni sebenarnya juga membebaskan kita dari dampak negatif kemarahan serta kebencian pada jiwa kita sendiri dan kesejahteraan fisik kita. Mengampuni dapat membuka hati kita dan membebaskan jiwa kita dari rasa tidak suka serta kebencian.

Sekali lagi mengapa kita harus mengampuni? Hal yang utama dalam mengampuni adalah karena Tuhan, sebagai pemegang otoritas tertinggi, terlebih dahulu telah mengampuni kita. Betapa sombong dan tinggi hatinya kita sebagai orang berdosa, jika kita tidak mampu mengampuni orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s