Mencinta Hingga Terluka

Erich Fromm melihat cinta sebagai sebuah karakteristik yang unik yang sebenarnya memanusiakan pria dan wanita. Dalam upaya meredakan perasaan keterasingan, manusia mencari kontak dengan dunia di sekitar mereka, khususnya dengan individu yang lain. Cinta sendiri merupakan hasil positif dari perjuangan untuk bergabung dengan individu lainnya. Cinta juga membutuhkan pengetahuan, usaha dan pengalaman. Kapasitas untuk mencintai harus dikembangkan dengan kerendahan hati dan disiplin. Menurutnya, dalam cinta yang matang, setiap pasangan akan peduli satu sama lainnya. Namun sayangnya tidak setiap hubungan cinta merupakan perwujudan cinta yang matang. Seringkali justru kita terluka, karena mencintai seseorang.

Luka batin yang diakibatkan oleh cinta seringkali menciptakan trauma dan kepedihan yang mendalam. Peristiwa pedih itu seringkali menghasilkan perenungan, apakah mencintai itu salah? Ataukah lebih baik tidak mencintai untuk menghindari luka batin? Irwanto, dalam kata pengantarnya, mengatakan bahwa sebuah paradox dalam hidup adalah ketika kita merasakan puncak kenikmatan hidup ketika mencintai dan dicintai, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan kita mengambil resiko untuk mengalami kepahitan dan luka batin.

Carl Rogers, seorang psikoterapis, memaparkan bahwa dalam relasi yang mengandung cinta kasih tanpa syarat, unconditional love, inilah manusia dapat mengaktualisasikan diri secara optimal. Dalam buku ini, kita belajar tentang kekuatan cinta. Bahwa cinta adalah proses perjalanan panjang, berkaitan dengan kesabaran, pengorbanan, pengampunan dan pemulihan. Buku Mencintai Hingga Terluka ini bukan hanya perjalanan profesi seorang konselor, tetapi perjalanan hidup mereka yang mau memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain. Memaafkan dianggap sebagai sebuah perwujudan cinta karena tidak mungkin dilakukan dengan perasaan lainnya. Pada akhirnya, dari pengalaman konseling penulis buku ini, Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha, cinta itu membutuhkan latihan ; ujian cinta juga membutuhkan model dan pembelajaran yang konsisten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s