Renungan tentang Bergereja, Beragama dan Beriman (part. 1)

Seringkali kita mendengarkan pelarangan pembangunan gereja di negeri ini. Saya berpikir, apakah kita masih perlu memiliki gedung gereja lagi untuk beribadah? Jika dilihat dari fungsinya, gereja sebagai tempat persekutuan orang yang beriman. Apakah yang kita benar-benar melakukan persekutuan dengan orang beriman ketika di gereja?

Jika dilihat dari segi efisien pemakaiannya, kita perlu mencermati kembali jadwal-jadwal kegiatan yang dilakukan. Di papan pengumuman gereja tertulis jadwal-jadwal kegiatan yang dilakukan dalam ruangan gereja. Hari yang kemungkinan penuh kegiatan adalah hari minggu. Hari lainnya mungkin hanya pada sore hari saja banyak digunakan, misalnya untuk paduan suara, persekutuan pemuda. Dari keseluruhan hari, ternyata ruangan di gedung tersebut tidak sepenuhnya digunakan secara optimal. Jika perlu pemakaiannya dioptimalkan misalnya disewakan untuk pesta pernikahan atau seminar. Seorang teman saya pernah mengatakan bahwa mungkin konsep ibadah dengan sewa ruangan di mall atau hotel jadi lebih efisien, karena waktu yang lain bisa digunakan untuk hal lain di luar ibadah.

Di kota kecil, tempat tinggal saya saat ini, memiliki jumlah  penduduk Nasrani yang cukup banyak. Dalam radius kurang dari 1 km, sudah berdiri beberapa gereja yang memiliki perbedaan sekte. Ada yang megah, ada yang kecil, semua tergantung dari jumlah jemaat dan kemampuan financial mereka. Menurut hemat saya, mengapa mereka tidak secara bergantian saja menggunakan salah satu gereja tersebut. Jika dasarnya sama yaitu Kristus sebagai penyelamat, seharusnya tidak menjadi masalah berarti. Kemungkinan besar Yesus juga tidak akan mempermasalahkan. Mungkin konsep Gereja Oikumene akan lebih hemat dari sisi efektifitas penggunaan gereja dari beberapa denominasi.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat di tayangan telivisi mengenai adanya konflik antara masyarakat dengan anggota jemaat tertentu berkaitan dengan pelarangan pembangunan gereja. Pelarangan pembangunan tempat ibadah membuat sejumlah jemaat beribadah di jalan dengan di jaga polisi. Ada yang berteriak, menangis, berdoa, bernyanyi dengan berbagai ungkapan emosi lainnya. Saya tidak tahu apakah itu benar-benar bentuk pemujaan kepada Tuhan, atau hanya sekedar ingin mendapat pujian dari manusia. Jika pun sudah sepenuh hati ke hadirat Tuhan, tetapi mengganggu manusia lain, apakah itu juga berkenan di hadapan Tuhan? Saya tidak tahu jawaban yang tepat untuk hal ini.

Pengalaman pribadi saya, justru merasa lebih memahami ketika bersekutu dalam kelompok kecil. Situasi pemahaman ayat-ayat dalam kelompok kecil memungkinkan orang untuk berdiskusi, sehingga menjadi lebih mudah mengerti makna suatu ayat dalam kitap suci. Bagi saya pribadi, hubungan manusia dengan Penciptanya harusnya sebuah hubungan pribadi yang sangat intim. Hubungan yang intim sudah seharusnya bersifat pribadi dan berbeda bagi setiap orang.

Berdirinya gereja suku juga tidak dipungkiri membuat bangunan gereja yang dibutuhkan menjadi semakin banyak. Beberapa gereja suku tertentu dengan mudah dapat diterima di suatu daerah tertentu, meskipun mereka minoritas. Tetapi gereja suku tertentu mengalami kesulitan untuk diterima di suatu masyarakat tertentu. Tidak bisa dipungkiri bahwa stigma maupun prasangka terhadap suatu suku tertentu masih melekat di benak masyarakat. Mungkin ada benarnya kata seorang ulama bahwa konflik terakhir mengenai  pendirian rumah ibadah, sudah bukan murni konflik agama, tetapi bisa jadi konflik suku.

Meminjam pernyataan dari Anthony de Mello, apakah ibadah menjadi lebih penting dari ketentraman hidup sesama manusia. Bagaimana jika kita memiliki gereja yang megah, namun keberadaannya mengganggu orang di sekitarnya? Apakah gereja menjadi lebih penting dari hubungan baik dengan sesamamu manusia? Demikian juga, apakah upacara pemujaan menjadi lebih penting daripada cinta kasih, ketika gereja menjadi lebih penting dari kehidupan. Tuhan pasti lebih senang jika kita mengalami transformasi daripada melakukan upacara ritual. Ia pasti lebih senang dengan cinta yang ada dalam diri kita daripada pemujaan yang kita lakukan.

Beberapa hari yang lalu, adik saya juga sependapat dengan pemikiran saya bahwa, ‘mungkin sebagai kaum minoritas kita yang harus tahu diri dan menempatkan diri dengan tepat.’ Saya tidak tahu itu hanya sebuah bentuk pemahaman diri atau bentuk inferiority.

Jadi teringat seorang teman yang mengatakan bahwa argumentasi saya di atas, yang pernah saya kemukakan kepadanya beberapa waktu yang lalu, hanya suatu bentuk pembenaran saya tidak beribadah ke gereja. Hahahaha… Saya tidak tahu mungkin dia punya dasar yang lebih kuat dalam hal ini. Atau mungkin saya memang masih perlu belajar banyak lagi baik tentang beragama dan beriman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s