Thomas Aquinas : Menyelaraskan Antara Iman & Akal (1)

Dalam surat kepada orang Ibrani ada tertulis bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Salah satu kitap dalam perjanjian baru tersebut menuliskan bahwa surat tersebut ditujukan kepada orang Ibrani. Meskipun demikian, penulis surat kepada orang Ibrani tersebut belum diketahui secara pasti. Karena penulis aslinya tidak diketahui, maka surat kepada orang Ibrani ini melalui proses yang panjang untuk menjadi bagian dari kitap perjanjian baru.

Konsep mengenai keberadaan Tuhan, selalu dikaitkan dengan iman. Manusia yang memiliki iman percaya dan mengakui keberadaan Tuhan. Dalam ayat selanjutnya pada perikop yang sama dalam kitap Ibrani, dikatakan bahwa karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakannya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Iman merupakan sesuatu yang dashyat, karena mampu membuat orang melakukan sesuatu yang terkadang di luar nalar atau logika.

Berbeda dengan iman, logika merupakan hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos). Dengan  logika, kita belajar untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren. Selain itu logika juga meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.

Kaum beriman menggunakan iman untuk memahami konsep tentang Tuhan, sedang orang yang menggunakan logika, cenderung akan menggunakan nalar untuk memahami konsep Tuhan. Jika dilihat dari dua sisi ini, konsep tentang Tuhan kemungkinan tidak akan mencapai titik temu.

Thomas Aquinas, seorang iman katolik dan biarawan, mampu mendamaikan pertentangan antara iman dan akal, terutama dalam memadukan iman Kristen dengan filsafat Aristoteles. Menurut Aristoteles, dalam proses perubahan yang bergerak dari materi menuju forma, mengandaikan adanya forma terakhir yang tidak dapat “dikeruhkan” lagi dengan materi (tidak dapat menjadi materi yang baru). Inilah forma terakhir (actus purus). Kalau demikian halnya, maka harus ada pula penggerak pertama yang tidak digerakkan. Penggerak pertama itu adalah forma yang tak bermateri; tujuan tertinggi yang menyebabkan semua gerak. Boleh disimpulkan bahwa seluruh kenyataan bergerak antara dua kutub abstrak yaitu materi yang tak berbentuk dan forma yang tak bermateri. Di sinilah kita dapat menyebutnya Tuhan. Tuhan ini tidak bermateri, hanya kenyataan atau realitas saja. Ia juga roh murni (nous); pikiran semata.

Pada masa hidupnya, Ia berusaha untuk mendamaikan pertentangan antara iman dan akal, khususnya yang berkaitan dengan iman Kristen dan rasionalitas dengan menggunakan argument-argumen filosofis yang dia ambil salah satu sumber utamanya, yaitu filsafat Aristoteles. Baginya, tidak perlu ada konflik antara apa yang diajarkan oleh filsuf atau akal kepada umat Kristen dan apa yang diajarakan oleh Wahyu Kristen atau iman kepada umat Kristen. Menurutnya, ajaran Kristen dan filsafat sering mengemukakan hal yang sama. Meskipun kebenaran-kebenaran iman itu hanya dapat dicapai melalui keyakinan dan wahyu, namun menurut Thomas Aquinas, ada sejumlah kebenaran Theology alamiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s