Maturity Continuum

Saya pernah memiliki teman yang cenderung menyalahkan hal di luar dirinya ketika terjadi sesuatu yang menimpa dirinya. Bahkan ketika kesalahan yang dilakukan sudah tampak nyata, ia tetap cenderung menyalahkan orang atau objek lain di luar dirinya. Pernah saya memberikan masukan tentang tindakannya yang kurang tepat, namun justru ia cenderung menyalahkan saya yang tidak berusaha mengendalikan tindakannya. Sebagai sesama orang dewasa, saya merasa bahwa setiap tindakan yang dilakukan sudah merupakan keputusan pribadi dengan pertimbangan yang matang. Orang lain mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan dalam kita memutuskan suatu tindakan, tapi mereka tidak bisa disalahkan dengan kesalahan yang terjadi. Saya heran dengan kalimat yang diucapkan oleh teman saya tersebut. Kesalahan yang dilakukannya sendiri, mengapa ditimpakan ke orang lain. Jika kita masih kanak-kanak, wajar jika tindakan kita merupakan tanggung jawab orang tua kita, karena kita belum memahami hal yang salah-benar.

Stephen Covey, dalam bukunya the Seven Habits of Highly Effective People, mengatakan bahwa kedewasaan seseorang berkembang pada satu kontinum tertentu. Ia menamakan teorinya sebagai “maturity continuum”. Tahap kedewasaan berkembang melalui 3 tahap yaitu dependent, independent dan interdependent. Ia juga menjelaskan bahwa seorang bayi berkembang dari ketergantungan (dependent) pada orangtuanya, menjadi mandiri (independent), sebelum akhirnya mencapai pada kematangan pemahaman akan saling ketergantungan dengan orang disekitarnya (independent).

Dalam pemahaman saya, seorang yang cenderung menyalahkan orang atau objek lain ketika terjadi sesuatu adalah orang yang masih berada pada tahap dependent dalam proses perkembangan kedewasaannya. Kata yang sering muncul pada orang ini adalah “kamu” atau “engkau”, sebagai contoh adalah “gara-gara kamu sich”, “coba kalau bukan kamu…”. Dalam proses kedewasaan seseorang dari tahap ketergantungan ini adalah taraf paradigma bayi.  Ia cenderung melakukan “blaming to others” (menyalahkan orang lain), karena mengangap dunialah yang salah kalau sesuatu itu tidak sesuai dengan harapannya.

Selanjutnya tahap kematangan pada kemandirian seorang remaja. Pada tahap independent ini, kata yang sering muncul adalah “aku”,  sebagai contoh : “ini pilihanku, aku akan mengerjakan sendiri”, atau  “aku tidak mungkin melakukannya”. Pada tahap ini ia justru seringkali menyalahkan dirinya. Ia tumbuh menjadi orang yang tidak mau berbagi dengan orang lain. Segala sesuatu dilakukannya  sendiri, terkadang tidak mau meminta tolong kepada orang lain.

Sedangkan tahap ketiga yaitu interdependent, dimana kata yang sering digunakan adalah “kita” atau “kami”, sebagai contoh “kita bisa bekerja sama”. Pada tahap ini, orang ini akan memikirkan kepentingan bersama, bukan hanya  orang lain, ataupun dirinya sendiri. Ia belajar untuk saling tergantung dengan orang dewasa yang lainnya. Dengan saling ketergantungan, saya berarti bahwa kita semua membutuhkan orang lain. Meskipun kita adalah makhluk independen, kita tidak dimaksudkan untuk menjadi sendirian. Kita semua saling berhubungan dan semua orang perlu merasa dibutuhkan. Seberapa baik kita dapat berhubungan dan bagaimana orang lain merasa nyaman berhubungan dengan kita sangat penting untuk kehidupan yang menyenangkan.

Dalam proses kematangan seseorang dari tahap ketergantungan (dependent)-kemandirian (independent)- saling tergantung (interdependent), ada kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikuasai supaya seseorang bisa menjadi sangat efektif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s