Coping With Pre-Menstrual Syndrom (1)

Menjelang datangnya menstruasi, seperti hari-hari terakhir ini, emosi dan keadaan fisik saya mengalami perubahan seperti biasanya. Berat badan naik beberapa pon, perut terasa kembung, payudara terasa lebih kencang dan kaki terasa pegal-pegal. Keinginan makan juga bertambah banyak. Gejala-gejala fisik seperti ini sudah menjadi hal yang biasa terjadi hampir semenjak menarche (menstruasi yang pertama kali).

Jika dulu beberapa orang teman bercerita mengenai gejala psikis yang mereka alami, seperti menjadi lebih sensitif, mudah marah dsb, saya kebetulan tidak mengalaminya pada tahun-tahun awal mengalami menstruasi. Gejala yang saya rasakan menjelang datangnya menstruasi lebih banyak ke gejala fisik.

Namun beberapa tahun terakhir ini, saya mulai merasakan gejala psikis menjelang datangnya menstruasi. Gejala-gejala psikis yang saya alam lebih ke arah depresif. Saya menjadi orang yang sensitif,  menjadi mudah sedih, putus asa, bahkan kadang seolah-olah hidup ini terasa sia-sia. Pada awal gejala ini muncul, saya tidak memahami bahwa ini terjadi seiring dengan gejala menstruasi saya. Perasaan rendah diri saya muncul, kemudian diikuti perasaan bersalah yang mendalam dan pikiran-pikiran yang negatif. Bahkan dalam kondisi sendirian, saya menjadi mudah terharu dan  menangis karena suatu hal. Dalam kondisi tersebut, justru kemarahan saya jarang sekali muncul. Saya mampu marah justru ketika logika berpikir saya sedang berjalan baik, tanpa pengaruh hormon kewanitaan.

Gejala-gejala psikis atau fisik tersebut dapat dijelaskan sebagai pre-menstrual syndrome (pms). Menurut salah seorang ahli, pre-menstrual syndrome (pms) merupakan sejumlah kumpulan gejala perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari kedua sampai hari keempat belas sebelum menstruasi dan akan mereda hamper segera ketika mentruasi berawal.

Perubahan suasana hati merupakan gejala yang paling dirasakan oleh banyak wanita, mereka  menjadi tidak sabar dan sering marah, baik dalam bentuk kemarahan irasional tanpa kekerasan ataupun dengan kekerasan fisik. Perasaan lain yang timbul bersamaan dengan kemarahan adalah ketegangan yang hebat.

Gejala depresi yang saya alami merupakan salah satu gejala mental atau psikisyang dialami oleh orang yang tengah mengalami pre-mentrual syndrome. Menurut Shreeve (1989) tingkat depresi yang terjadi pada seorang wanita yang mengalami PMS bervariasi dari kemurungan setiap bulan sampai ke kekacauan batin yang serius dan mengarah pada bunuh diri. Salah satu ciri depresi pramenstruasi adalah kecepatan dalam perubahan suasana hati (mood), sehingga wanita yang biasanya stabil dan merasa bahagia bisa mengalami perubahan batin pada awal mulai syndrom. Aspek-aspek depresi yang lainnya ialah perasaan tak berguna, tak ada gairah seks dan kurang percaya diri. Gejala-gejala depresi tersebut akan terjadi secara teratur selama masa pramenstruasi dan hilang dengan sendirinya setelah menstruasi tiba.

Secara biokimia, dapat dijelaskan bahwa meningkatnya kadar estrogen dalam darah ketika menjelang menstruasi, menjadi penyebab gejala. Kadar estrogen yang meningkat akan mengganggu proses kimia tubuh termasuk vitamin B6 (Piridoksin) yang dikenal sebagai vitamin anti depresi karena berfungsi mengontrol produksi serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak dan syaraf, dan kurangnya persediaan zat ini dalam jumlah yang cukup dapat mengakibatkan depresi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s