Saya Terbakar Amarah Sendirian

“Jawanisme adalah taat dan setia kepada atasan, yang pada akhirnya menjurus kepada fasisme. Prinsipnya taat dan setia yang membabi buta kepada atasan dan tidak memikirkan pihak lain sama sekali. “ demikian sekelumit ungkapan dari seorang Pramoedya Ananta Toer yang tertera halaman 45.  Pram menambahkan bahwa hal inilah yang membuat pulau Jawa dijajah oelh berbagai bangsa asing selama berabad-abad, karena kaum elit Jawa berkolusi dengan kekuatan kolonial yang mencari rempah-rempah.

Rakyat tidak berani menentang baik kaum elit maupun para penjajahnya. Bahkan dalam bahasa Jawa juga dibuat sangat bertingkat-tingkat dan diciptakan untuk memuliakan atasan. Menurut Pram, ketika diterjemahkan ke dalam politik, jadilah fasisme. Fasisme tidak memperbolehkan adanya oposisi atau perlawanan.

Ketidaksukaan Pram terhadap Jawanisme ataupun budaya Jawa yang menunjukkan “sesuai petunjuk atasan” atau “asal bapak senang” terungkap dari perbincangan dalam buku ini. Prinsip Jawanisme ini merupakan akar dari kolusi, korupsi dan nepotisme yang terjadi baik dalam masyarakat maupun dalam kehidupan berpolitik.

Suaranya yang lantang dan lugas mengungkap pandangannya mengenai kudeta 1965 serta keterlibatan Amerika Serikat dalam peristiwa ini. Ia juga bersuara kritis terhadap Soeharto bersama rezimnya, Timor Leste dan Aceh, serta mengenai masa depan Indonesia. Berkaitan dengan masa penahanannya di pulau Buru selama 10 tahun, ia mengungkapkan bahwa bagaimana dalam masa-masa sulitnya ia dapat menghasilkan novelnya yang paling terkenal yaitu “Tetralogi Buru”.

Ketika ditanya tentang apakah ia percaya kepada agama, dengan lugas ia menjawab, “Saya hanya percaya kepada diri saya. Dan dengan berjalannya waktu, saya tahu bahwa saya hanya bisa bergantung pada diri saya sendiri. Saya ditahan orde baru selama 34 tahun di penjara dan kamp konsentrasi, dan Tuhan tidak pernah menolong saya. Orang-orang datang kepada Tuhan untuk mengemis. Menurut  saya berdoa itu sama dengan mengemis.” (hal  16).

Menurut Chris Gowilt, dalam kata pengantar buku ini, mengungkapkan bahwa dalam buku ini kita dapat mendengar suara Pram dengan lantang dan jelas. Namun suara yang keluar ini tidak bisa dikatakan sebagai suara yang berdamai dengan dunia. Apa yang direkam di dalam  buku ini adalah kelanjutan apa yang ditulis oleh Pram di dalam buku-bukunya – sikap membangkang, menolak, menantang, tak kenal kompromi menyangkut kebebasan dan nalar, serta indiviualisme yang disebut dengan “Pramisme”.

Saya sendiri bukan pembaca setia semua buku Pram, namun buku ini memberikan banyak pemahaman mengenai bagaimana kebermaknaan hidup dalam pandangan seorang yang memiliki latar belakang yang penuh dengan liku-liku. Sangat menarik juga mengenai pandangannya tentang kehidupan dan sejarah perjalanan politik bangsa ini dari sudut yang berbeda.

Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini yang merupakan hasil perbincangan  dengan Andre Vitchek, seorang penulis, analis politik, pembuat film dan wartawan yang berasal dari Amerika Serikat. Ia bersama Rossie Indira, seorang arsitek, analis bisnis, dan aktif menulis di berbagai surat kabar dan majalah, menyusun hasil wawancaranya  menjadi sebuah buku.

Sebuah buku yang menarik bagi anda yang tengah terbakar amarah sendirian, apakah kemarahan tertuju kepada hidup, masa lalu, Tuhan atau terlebih lagi kepada pemerintah yang tengah berkuasa. Saya terbakar amarah sendirian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s