Bagaimanakah Membangkitkan Empati pada Anak? (2)

Apakah Empathy = Symphaty ?

Sering kali sulit membedakan antara sympathy dengan empathy. Beberapa orang terkadang menganggap bahwa itu merupakan sesuatu yang tidak berbeda. Ketika kita datang ke tempat orang yang telah berduka, kita ikut menangis. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa kita mengungkapkan empati kita kepada orang yang tengah berduka. Apakah memang empati yang telah muncul, atau hanya sekedar simpati?

Ada beberapa pengertian dari Empati. Empati dalam Bahasa Yunani berarti “ketertarikan fisik”. Kemudian didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain.

Empati berbeda dengan simpati. Simpati dapat dikatakan sebagai perasaan peduli dengan perasaan orang lain. Akan tetapi simpati tidak sedalam empati. Dengan simpati kita belum bisa dikatakan dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sebagai contohnya, saat melihat seorang rekan yang mengalami masalah tertentu, kita bersimpati dengan menunjukkan kepedulian dengan menanyakan bagaimana hal tersebut bisa terjadi, tetapi kita belum bisa sepenuhnya merasakan kepedihannya.

Seringkali empati lebih diungkap sebagai ”Aku mengerti bagaimana perasaanmu?” ataupun ”Aku bisa memahami apa yang terjadi denganmu?”. Jika kita dapat memahami perasaan atau apa yang terjadi pada orang lain, berarti kita bisa menunjukkan perilaku yang sesuai dengan kondisi emosinya. Reaksi yang kita tunjukkan terhadap perasaan orang lain adalah suatu respon emosional yang sesuai dengan perasaan yang tengah dialami orang tersebut.

Bagaimanakah Perkembangan Empati ?

Damon dalam buku Life-Span Development karya John W. Santrock, mengemukakan bahwa walaupun empati lebih sebagai suatu keadaan emosional, empati seringkali mengandung komponen kognitif. Komponen kognitif adalah kemampuan untuk melihat kedaaan psikologis yang mendalam pada orang lain, ataupun apa yang disebut “penentu perspektif”. Bayi kecil memiliki kemampuan untuk merespons dengan empati yang murni, tetapi untuk tindakan moral yang efektif anak-anak perlu belajar bagaimana mengindentifikasi berbagai keadaan emosional pada orang lain.  Mereka perlu belajar mengantisipasi jenis-jenis tindakan apa yang akan memperbaiki keadaan emosional orang lain.

Proses mengindentifikasi berbagai keadaan emosional orang lain bukan perkara yang mudah. Bayi belajar menilai benar atau salahnya suatu tindakan lebih menurut kesenangan atau kesakitan yang ditimbulkannya, serta bukan menurut baik atau buruknya efek suatu tindakan terhadap orang-orang lain. Sedangkan pada masa kanak-kanak awal seringkali anak belajar bertindak bagaimana, tanpa mengetahui mengapa. Mereka cenderung bertindak dengan harapan sosial memperoleh pujian atau penghargaan dari orang lain. Ketika masa kanak-kanak akhir, mulai muncul perkembangan suara hati. Suara hati ini merupakan suatu reaksi khawatir yang terkondisi terhadap situasi dan tindakan tertentu yang telah dilakukan dengan jalan menghubungkan perbuatan tertentu dengan hukuman yang diperoleh. Dalam berempati, orang membutuhkan kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. Relatif hanya sedikit anak yang dapat melakukan hal ini sampai awal masa kanak-kanak berakhir.

(pernah dimuat di majalah Psikologi Plus)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s