Bagaimana Membangkitkan Empati pada Anak? (1)

Sore itu, Ayah Saskia baru pulang dari luar kota. Ia memberikan oleh-oleh sekotak coklat yang sangat lezat. Coklatnya berbentuk aneka binatang. Ada yang berbentuk kucing, panda, serta binatang lainnya. Saking gembiranya ia membawa beberapa coklat saat bermain di halaman rumah Siti. Ayah Siti hanya seorang tukang becak. Penghasilannya tidak seberapa banyak. Saskia memakan coklat, sambil memamerkannya ke Siti. Tidak terbersit keinginan sedikitpun untuk membagi makanannya.

Keadaan seperti itu sering kita jumpai di lingkungan kita. Sikap Saskia kemungkinan juga mencerminkan sikap kita. Kita juga seringkali terjebak pada sikap kurang memiliki kepedulian terhadap kondisi di sekitar kita. Sikap hidup yang kita jalani cenderung lebih mementingkan diri kita sendiri. Seringkali kita lupa terhadap situasi dan kondisi yang terjadi dalam masyarakat.

Bercermin pada sikap si kecil Saskia, kita tidak bisa menyalahkan perilakunya. Kita tidak bisa mengelak dengan mengatakan bahwa sikap itu hanya sesuatu yang sepele (kecil), bukan masalah yang besar. Namun kita perlu melihat dampaknya, ketika masih berusia kanak-kanak, ia sudah mencerminkan ketidakpekaannya, bagaimana ketika ia menjadi dewasa.

Perilaku seorang anak seringkali merupakan satu cerminan dari sikap orang dewasa. Ia berperilaku dengan melihat model, serta menirukan perilaku dari ”model” tersebut. Satu pertanyaan yang muncul, apakah orang-orang dewasa di sekitarnya, sudah mengalami kesulitan untuk peduli dan berbagi dengan orang lain? Betapa mudahnya kita menjadi pribadi yang tidak peka. Kita merasa kehabisan waktu untuk mendengarkan orang berkeluh-kesah. Nilai-nilai yang berlaku di masyarakat juga cenderung mengalami perubahan. Kesulitan ekonomi dan perilaku sebagian besar orang yang cenderung berfokus pada materi, membuatnya menjadi pribadi yang mementingkan diri sendiri. Beberapa contoh konkret yang ada seperti perilaku pengemudi di jalan raya yang saling berebut jalan. Atau perilaku masyarakat ketika berdesakan untuk mengantre bantuan pemerintah. Bahkan kita seringkali melihat kerusuhan yang terjadi akibat perebutan kekuasaan. Jadi, keadaan tersebut tidak hanya pada strata masyarakat status sosial ekonomi bawah, tetapi juga pada strata yang lebih tinggi.

Moralitas kemudian berubah, sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat. Ketika menilai moralitas seseorang dari perilaku atau perasaannya dalam menanggapi sesuatu. Bentuk perilaku yang cenderung ke arah negatif akan menggambarkan moralitas yang kurang baik. Berbeda dengan perilaku atau ungkapan perasaan yang positif, yang cenderung akan mengembangkan moralitas seseorang ke arah yang baik.

Beberapa perasaan yang positif seperti empathy akan menyumbang bagi perkembangan moral anak. Kepekaan seseorang harus dilatih sedari kecil. Salah satunya adalah kepekaan untuk memahami perasaan orang lain.

(pernah dimuat di majalah psikologi plus)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s