Be More Assertive !

“Oooh… saya tidak tahu kalau suami saya menyukai hal itu.” Kata seorang ibu di sela-sela konseling beberapa minggu yang lalu. “Selama ini, ia tidak pernah mengatakan hal itu.” Wajahnya tertegun cukup lama, saat saya mengatakan beberapa hal tentang keinginan suaminya. Salah satunya bahwa sejak awal pernikahan sekitar 13 tahun yang lalu, suaminya ingin sekali mengisi waktu lenggang mereka hanya dengan bersantai saja. Seringkali ia ingin mengungkapkan keinginannya untuk melakukan kegiatan seperti hanya duduk di lantai sambil menonton acara televisi atau bersenda gurau. Suami sebenarnya kurang suka melihat kesibukan istrinya sehabis sepulang bekerja. “Ada-ada saja yang dilakukannya… kalo tidak memasak kue untuk dititipkan ke toko-toko…biasanya menambah waktu untuk memberikan les privat dll.”

Di hari yang berbeda seorang istri mengeluhkan sikap suaminya. Suaminya ini sangat murah hati dalam menolong teman-temannya, baik wanita maupun pria. Terkadang ia sampai mengabaikan kepentingannya diri sendiri. Jika badannya sudah kecapekan, akhirnya istrinya yang terkena dampak buruknya. Beberapa kali wanita ini meminta suaminya untuk berani menolak sekiranya ia tidak bisa membantu temannya. Namun si suami menolak, karena merasa tidak nyaman untuk melakukannya.

Beberapa orang terkadang enggan menunjukkan perasaan atau keinginannya yang sesungguhnya, seperti halnya dua contoh di atas. Ada beberapa alasan, namun sering alasannya yang mendasar adalah ingin menghindari terjadinya konflik. Selain itu, berbicara secara terus terang terkadang dianggap menunjukkan sikap memaksa atau cenderung mementingkan kepentingannya sendiri (egois). Sebagian dari kita, ada kecenderungan tidak ingin menunjukkan sifat-sifatnya yang dianggap negatif oleh orang lain. Sikap yang pasif dan tidak berterus terang kadang dianggap dapat mencegah konflik, terutama dalam jangka pendek. Namun jika dibiarkan dalam jangka waktu lama, maka beberapa ketidaksesuaian yang kecil tersebut akan bertumpuk-tumpuk. Sebagai akibatnya akan memunculkan kekecewaan lebih dalam, yang justru dapat memicu konflik yang lebih besar lagi.

Selain itu, orang menjadi enggan untuk berterus terang juga karena takut mendapatkan penolakan. Padahal kita hanya menduga-duga saja apakah bagaimana respon orang lain terhadap kita. Dugaan mendapat penolakan seringkali lebih besar daripada mendapat respon positif. Padahal, bisa saja ketika orang lain mendengarkan penjelasan kita secara tepat, ia akan menerima dan memahami perasaan kita yang sesungguhnya. Sebagai dampaknya, ia akan memberikan respon sesuai dengan harapan dan kebutuhan kita.

Dalam komunikasi, keterampilan untuk menyatakan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan kepada orang lain secara tepat disebut sebagai Asertivitas. Diane Cawood dalam bukunya “Assertiveness for Managers” mengemukakan bahwa asertif adalah mengekspresikan pikiran, perasaan, kebutuhan atau hak-hak yang dimiliki dan bersifat langsung, jujur, dan sesuai, tanpa adanya kecemasan yang tidak beralasan dan kemampunan untuk menerima perasaan atau pendapat orang lain dan dengan tidak mengingkari hak-hak mereka dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Perilaku asertif merupakan bentuk pengembangan hubungan interpersonal yang bersifat memberi (menyatakan kebutuhan, perasaan, dan pikiran secara langsung, jujur, dan dalam kesempatan yang tepat), sekaligus juga menerima (mendengarkan secara aktif apa yang menjadi kebutuhan, pikiran, dan perasaan orang lain).

Perilaku asertif berbeda dengan perilaku agresif. Perilaku agresif juga mengungkapkan keinginannya ataupun perasaannya, namun dengan sikap yang cenderung memaksa orang lain melakukan sesuai keinginannya. Ekspresi yang dikemukakan dalam perilaku agresif justru bersifat melecehkan, menghina, merendahkan, bahkan menguasai pihak lain. Sedangkan kebalikannya adalah perilaku pasif (submissif). Individu yang berperilaku pasif, cenderung tidak berani mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Sebagai akibatnya orang lain tidak memahami kebutuhannya, sehingga memberikan respon yang tidak sesuai. Ada kecenderungan orang yang pasif akan berkeluh kesah di belakang atas ketidakpuasannya terhadap tanggapan orang lain, seperti halnya 2 kejadian di atas.

Seperti juga yang dikatakan Stephen Covey bahwa keterampilan komunikasi merupakan hal yang paling penting dalam menjalin relasi sosial dengan orang lain. Asertivitas merupakan salah satu keterampilan komunikasi yang penting untuk ditingkatkan. Dengan berperilaku asertif maka akan membuat proses komunikasi berjalan dengan efektif serta membangun hubungan yang setara dan saling menghormati.

Please… be more Assertive.. and you’ll get an appropriate response from others.

Zona Nyaman Yang Tidak Nyaman

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa orang teman, berusaha untuk membantu seorang ibu dengan tiga anaknya yang ingin pindah ke tempat yang lebih baik. Sebelumnya ia mengungkapkan keinginan untuk mencari sebuah panti, terutama bagi anak-anaknya, supaya dapat mengikuti pendidikan.  Selama ini, ia tinggal bersama suami dan ketiga anaknya di sebuah kamar sederhana yang disewa dengan harga yang murah. Mereka kami kenal karena sering mencari barang bekas di sekitar tempat kerja kami tersebut. Suami yang menikahinya secara agama (siri), sering mengabaikan kebutuhan mereka. Kebiasaannya berjudi suaminya tidak pernah berkurang, sehingga sebagian besar penghasilan dihabiskan untuk hobinya tersebut.

Singkatnya, kami berusaha mencari sebuah tempat yang diperkirakan dapat memberikan pendidikan lebih baik bagi anak-anaknya. Kami menghubungi sebuah panti yang sudah sering bekerjasama dengan tempat kerja kami. Panti tersebut bersedia menerima ketiga anaknya, bahkan dengan ibunya juga. Ketiga anaknya akan mendapatkan beasiswa pendidikan sampai perguruan tinggi yang didanai oleh sebuah organisasi dari luar negeri. Sedangkan ia akan diberikan tugas untuk membantu di tanah pertanian milik panti tersebut.

Kami sengaja mengajak ibu dan ketiga anaknya tersebut ke panti untuk mendaftar secara resmi. Sepulang dari panti tersebut, ia tampak semakin mantap dengan rencananya pindah ke panti tersebut. Namun pada hari yang dijanjikan, ia tidak datang ke tempat kerja kami, seperti yang sudah disepakati. Kami berencana untuk berangkat bersama dari kantor kami. Padahal tas yang berisi barang-barang ibu dan ketiga anaknya sudah kami bawa sebelumnya, supaya memudahkannya. Kami menunggu sampai beberapa jam, sampai akhirnya berkesimpulan bahwa ia tidak jadi datang. Kemudian kami meminta salah seorang mahasiswa yang mengenalnya dengan baik, untuk datang ke tempat tinggalnya. Kami ragu jika salah seorang dari kami yang datang, ia merasa takut dan semakin menjauhi kami. Akhirnya kami mengetahui bahwa ia tidak jadi pindah karena di larang oleh suaminya. Pria yang sudah menikah sebanyak lima kali tersebut rupanya marah dengan rencana istri dan anak-anaknya ini meninggalkannya.

Kondisi serupa mungkin pernah terjadi pada diri kita. Beberapa dari kita mungkin pernah mengalami ketakutan untuk keluar dari suatu tempat atau kondisi yang sudah lama menjadi bagian dari kita. Situasi maupun kondisi tersebut mungkin sudah tidak nyaman bagi kita, namun kita takut keluar dari keadaan tersebut. Ada banyak alasan mengapa orang tidak mau keluar dari situasi saat ini. Salah satunya mungkin karena sudah merasa terbiasa dengan ketidaknyamanan, atau justru karena takut untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru. Situasi atau kondisi baru mungkin tampak lebih baik, namun pasti membutuhkan penyesuaian baru yang mungkin juga berat. Salah seorang teman saya memberikan istilah sebagai takut keluar dari zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman.

Situasi yang dialami oleh ibu tersebut mungkin demikian. Pada satu sisi, ia ingin kehidupan lebih baik dengan anak-anaknya. Namun ia takut harus menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Keadaan saat ini mungkin tidak lebih baik, namun ia sudah menjalani kesulitan ini dalam waktu yang cukup lama, sehingga sudah merasa biasanya dengan penderitaan. Ia mungkin sudah mengalami kenyamanan dalam situasi yang sebenarnya tidak nyaman.

Beberapa orang terjebak dalam zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman, karena sudah menjadi bagian hidupnya. Beberapa orang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat dengan pasangannya. Sebagian lagi terjebak dalam situasi kerja yang tidak baik. Atau beberapa remaja terjebak dalam pergaulan dengan rekan sebaya yang tidak sehat.

Namun kembali lagi, keluar dari situasi yang telah menjadi bagian darinya, selalu menimbulkan pertanyaan, “apakah hidup akan lebih menyenangkan jika keluar dari situasi saat ini?’.  Kekhawatiran akankah mendapat pasangan yang lebih baik, tempat kerja yang memperlakukannya dengan lebih baik ataukah situasi yang lebih sehat, menjadi pertimbangan takutnya bergerak dari zona saat ini.

Individu-individu yang berada dalam situasi ini sebenarnya membutuhkan pertolongan. Pada dasarnya mereka sudah tahu dengan situasi saat ini tidak baik, namun mereka takut melangkah. Mereka membutuhkan penguatan untuk keluar dari sarang mereka saat ini. Seorang penolong dapat memberikan dukungan atau motivasi untuk menguatkan tindakannya keluar dari zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman.

Temple Grandin : A Biopic of An Autistic Woman

” …They will be very calm. Nature is cruel but we don’t have to be. We owe them some respect. I touched the first cow that was being stunned. In a few seconds it was going to be just another piece of beef, but in that moment it was still an individual. It was calm and then it was gone. I became aware of how precious life was… ” 

“Your child is clearly autistic”, Kalimat pendek yang diucapkan dokter membuat seorang ibu terperangah, antara kaget dan kurang memahami makna kata, “Autistic… I am not familiar?”. Dokter itu kemudian menambahkannya, “ She is an infantile schizophrenia”. Di sudut sebuah sofa, seorang anak berusia sekitar 4  tahun, duduk membisu sambil mengamati garis dan gambar pada kain jendela. Pada masa itu, istilah autistic belum banyak dikenal oleh masyarakat secara umum. Para ahli mengelompokkannya ke dalam kategori schizophrenia pada masa kanak-kanak atau sering disebut sebagai infantile schizophrenia. Dokter tersebut memberikan saran untuk memasukkan anak tersebut ke rumah sakit jiwa.

Demikian salah satu adegan dari film Temple Grandin. Kisah ini dimulai dengan kedatangan Temple Gandrin ke rumah bibinya. Paman dan bibinya mengelola sebuah peternakan sapi di daerah Arizona. Ketika itu merupakan liburan musim panasnya setelah ia menyelesaikan pendidikan tingkat atasnya. Ia terheran – heran, ketika melihat sapi-sapi yang dipaksa masuk ke sebuah alat yang cara kerjanya adalah dengan menekan/menjepit bagian tubuh sapi tersebut. Secara alami, binatang tersebut merasa takut dan mengalami ketegangan ketika mendegar suara yang keras. Ketika ketakutan, mereka akan berhenti di lorong. Peternak biasanya akan memberikan terapi kejut, supaya binatang tersebut berjalan kembali menuju ke ujung lorong. Di ujung lorong ada alat penekan. Setelah sapi mendapat tekanan, ia akan diberikan suntikan berupa vaksin atau diberikan tanda tertentu (ditandai) oleh peternak. Temple Grandin mengamati dan menarik kesimpulan, bahwa binatang tersebut juga memiliki kepekaan tersendiri dan membutuhkan perlakuan yang lebih baik.

Suatu kali ia mengalami ketegangan, saat melihat hal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika ia akan masuk ke kamarnya, tulisan “Temple Grandin’s Room” yang tertempel di pintu kamarnya, terlepas dan jatuh. Dari sudut pandangnya, ia melihat ada keanehan dan perubahan di dalam kamarnya. Kondisi ini membuatnya ketakutan. Lalu berlari ke alat penjepit sapi yang berfungsi untuk menurunkan ketegangan binatang tersebut. Ia masuk ke dalamnya dan meminta bibinya untuk memberikan tekanan pada alat itu. Secara perlahan, ketegangan yang dialami oleh Temple menjadi berkurang. Pada akhirnya ia membuat alat ini yang selalu digunakan untuk mengatasi ketegangannya. Alat penekan itu disebut sebagai “Mesin Pelukan” atau “Hug Machine”. Ia merancang “Hug Machine” bagi sapi secara mendetail. Lorong-lorong dibuat dengan dinding yang kuat, tanpa ada suara yang keras dan tanpa alat kejut listrik. Ujung lorong sebagai mesin penekan, dibuat dengan dinding yang berbahan lebih lembut. Selain untuk binatang ternak, “mesin pelukan” ini dirancang untuk penderita autism di sekolah milik Temple Grandin. Ketika mengalami ketegangan, anak-anak akan masuk ke “Mesin Pelukan” ini. Mereka akan menekan tombol penekan untuk membuat tekanan yang tepat atau sesuai dengan kebutuhan mereka. Bagi anak penderita autism, pelukan orang terasa aneh, namun ia dapat menurunkan ketegangan melalui “Hug Machine” ini.

Dr.Carlock, seorang guru Science di sekolah menengah atas, yang pada awalnya mampu melihat kemampuan Temple Grandin di bidang Science yang sangat besar. Ia memiliki kemampuan photographic memory yang luar biasa, sehingga segala sesuatu mudah terekam secara visual. Selain itu, Temple Grandin juga memiliki kemampuan mengukur ruang dan memotret visual dalam kepalanya dengan tepat dan rinci. Kemampuan ini yang membawanya mampu menjadi Doctor of Animal Science, pengarang buku best seller, konsultan, dan juga seorang pengajar di Colorado State University bernama Temple Grandin.

Sebagai seorang yang mengalami gangguan autism, ia melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, yang tentu saja berbeda dengan cara pandang orang yang tidak mengalami hambatan tersebut. Ia memiliki gerakan-gerakan stereotype dan cenderung diulang-ulang. Selain itu, ia menolak sentuhan, baik dengan keluarga, teman sejenis maupun lawan jenis. Intonasi bicaranya cenderung datar, serta mengalami kesulitan ketika harus berkomunikasi dua arah. Di samping itu, ia sensitive sekali terhadap suara. Kemampuan berbicaranya baru muncul saat usianya 4 tahun. Ibunya berusaha dengan keras untuk melatihkan kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimilikinya. Ia menolak untuk membawa Temple Grandin ke rumah sakit jiwa.

Perilaku khas lainnya pada gangguan ini yang juga muncul pada Temple Grandin adalah kesulitannya dalam menjalin relasi dengan orang lain. Ia tampak aneh bagi kebanyakan orang, demikian juga ia merasa tidak mampu memahami orang lain. Sepanjang film ini, digambarkan bagaimana konflik ataupun ketegangan yang timbul antara Temple Grandin dengan orang-orang di sekitarnya yang tentu saja memiliki cara pandang dan perilaku yang berbeda. Dalam sebuah film documenter tentang anak autism, yang berjudul The Invisible Wall Autism, Temple Grandin mengungkapkan bahwa hubungan dengan orang lain yang melibatkan emosi atau perasaan yang lebih dalam, terasa aneh baginya. Ia merasa ada beberapa hal yang tidak ada dalam dirinya. Ia lebih memilih pendekatan tanpa emosi dan hubungan yang tidak intim. Kebahagiaannya berbeda dengan kebahagian orang lain. Dunianya berputar pada kehidupan intelektualnya, yaitu pekerjaan dan karirnya.

Temple Grandin lahir di Boston, Massachusetts pada 29 Agustus 1947. Berlatar belakang Amerika pada tahun 1970-an, kisah ini berdasarkan pada buku Emergance karya Temple Grandin dan Margaret Scariano, juga buku Thinking in Pictures karya Temple Grandin, mencoba membawa persepsi atas dunia yang sangat berbeda dari sudut pandang orang yang mengalami gangguan perkembanga pervasive. Kisah ini diproduksi oleh HBO, dan diperankan oleh Claire Dane dengan cemerlang, sehingga mendapat anugerah Golden Globe Award untuk Best Actress kategori Miniseri atau film yang diproduksi televisi. .

Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Perahu Kertas, Kumpulan Sajak
Sapardi Djoko Damono
1982.

Brida

Semua orang memiliki “takdir” yang harus dijalani. Dalam setiap kehidupan, setiap kita merasakan suatu kewajiban misterius untuk menemukan setidaknya satu dari para pasangan jiwa.

“But how will I know who my Soulmate is?” Brida felt that this was one of the most important questions she had ever asked in her life. “By taking risks” Wicca said to Brida. “By risking failure, disappointment, disillusion, but never ceasing in your search for Love. As long as you keep looking, you will triumph in the end.”

Brida melemparkan pertanyaan paling penting dalam hidup kita, “Apa yang kaucari dalam kehidupan ini?”. Brida O”Fern, seorang gadis Irlandia berusia sekitar dua puluhan tahun, mengalami sebuah perjalanan yang mengisi jiwa untuk menemukan makna hidupnya. Paulo Coelho menuliskan perjalanannya dalam sebuah novel tentang supranatural, cinta, dunia sihir, reinkarnasi dan pencerahan.

Kisah ini diawali dengan pertemuan Brida dengan Magus, Sang Guru pertamanya. Brida mengungkapkan keinginan untuk belajar tentang ilmu sihir dari Magus. Sang Guru digambarkan sebagai lelaki paruh baya yang mengasingkan diri di hutan. Magus mengarahkan Brida ke guru lain, yaitu Wicca, seorang wanita. Guru ini mengantar Brida menapaki perlahan-perlahan dalam proses untuk menemukan potensi dan misteri tersembunyi di dalam dirinya.

Wicca menyebutkan bahwa setiap pencarian diri itu tidak akan menemukan kegenapannya jika seseorang tidak menemukan belahan jiwanya. ”Dalam setiap kehidupan, kita merasakan suatu kewajiban misterius untuk menemukan setidaknya satu dari para pasangan jiwa itu. Kita mungkin membiarkan pasangan jiwa kita berlalu, tanpa menerima mereka, atau bahkan menyadari keberadaan mereka. Maka kita akan membutuhkan inkarnasi berikutnya untuk menemukan pasangan jiwa itu. Dan akibat keegoisan kita, kita dikutuk dengan siksaan terburuk yang pernah ditemukan manusia untuk diri mereka sendiri : Kesepian.”

Pada akhirnya esensi penciptaan adalah satu dan satu adanya. Dan esensi itu adalah cinta. Cinta adalah kekuatan yang membawa kita kembali menyatu, merangkum berbagai pengalaman yang terpancar keluar ke banyak kehidupan dan bagian dunia. “Kita adalah para pasangan jiwa sejak awal waktu. Jika mereka baik-baik saja, kita juga akan bahagia. Jika keadaan mereka tidak baik, kita akan merasakan, betapapun kita tidak menyadarinya, sebagian rasa sakit mereka. Namun diatas segalanya, kita bertanggung jawab atas pertemuan kembali, setidaknya sekali dalam setiap inkarnasi, dengan pasangan jiwa yang pasti akan berpapasan di jalan kita. Meski hanya sekejap, karena waktu yang sekejap itu akan membentuk cinta yang begitu dalam hingga sekejap itu membawa sebentuk cinta yang begitu dalam hingga mampu membenarkan seluruh hari yang kita miliki.”

Coelho berhasil mengajak pembaca untuk mempertimbangkan gagasan reinkarnasi, yang memainkan peran penting dalam agama Wicca. Ia juga memperkenalkan gagasan atau kemungkinan untuk menemukan dan mencintai dua atau lebih belahan jiwa dalam hidup yang sama. “Bagaimana jika dalam satu masa hidup, seseorang menemukan lebih dari satu belahan jiwa?” tanya Brida pada Wicca. Brida merasakan perasaan cintanya kepada kekasihnya, namun merasakan ikatan spiritual yang kuat dengan Magus. “Yang terjadi adalah kesedihan, air mata, dan kedukaan yang amat pedih.” jawab sang guru.

Brida akhirnya memang menemukan fakta pahit bahwa sang belahan jiwanya bukanlah Lorens, kekasihnya, melainkan Magus. Brida mencintai Lorens yang bukan belahan jiwanya. Sementara itu, meskipun semenjak awal pertemuan, Magus menyadari sepenuhnya bahwa Brida adalah pasangan jiwanya, namun ia mencintai Wicca yang bukan belahan jiwanya.

Pada akhirnya setiap orang harus menjalani realitas yang ada. Setiap kegagalan, kesedihan dan penderitaan, mungkin hanya cara Tuhan untuk menunjukkan jalan yang harus kita tempuh.

“When you find your path, you must not be afraid. You need to have sufficient courage to make mistakes. Disappointment, defeat, and despair are the tools God uses to show us the way.”

Bittersweet

In my hallucination
I saw my Beloved’s flower garden
In my vertigo; in my dizziness; In my drunken haze
Whirling and dancing like a spinning wheel

I saw myself as the source of existence
I was there in the beginning
And I was the Spirit of Love
Now I am sober
There is only the hangover
And the memory of love
And only the sorrow
I yearn for happiness; I ask for help
I want mercy

And my Love says

“Look at me and hear me
because I am here just for that”
“I am your woman and your moonlight too
I am your flower garden and your water too
I have come all this way eager for you
without shoes or shroud”
“I want you to laugh, to kill all your worries
To love you, to nourish you”
“Oh, Sweet Bitterness
I will soothe you and heal you
I will bring you roses
I too have been covered with thorns”

Bittersweet, puisi tasawuf oleh Jalaludin Rumi. Diterjemahkan ke dalam bahasa  Inggris oleh Deepak Chopra, dibaca oleh Madonna dengan arrangement music oleh William Orbit.

Waisak

Catatan Pinggiran dari Goenawan Mohamad

Bayi yang kemudian jadi Buddha itu lahir ketika sang ibu memegangi sebatang dahan pohon Sal di Kebun Lumbini.

Adakah ini lambang pertautan antara bayi yang suci itu dengan kehidupan yang bersambung ke ranting dan daun—dari mana oksigen menyebar dan di mana burung pengembara menemukan tempat jeda?

Saya tak tahu. Orang besar yang lahir lebih dari 2.500 tahun yang lalu akan selalu tumbuh dengan legenda, dan tiap legenda punya pertanyaan yang tak pernah putus. Tapi beberapa ”data” dari kehidupan Buddha agaknya bisa jadi bahan percakapan—setidaknya antara saya, yang bukan Buddhis, dan para pembaca, yang mungkin di antaranya Buddhis.

Sang Buddha, seperti kita tahu, lahir sebagai Pangeran Siddharta. Ayahnya, Suddhodhana, adalah Raja Kapilavastu, wilayah di kaki Himalaya. Keluarga ini bagian dari klan Gautama, yang termasuk wangsa Shakya. Dari kitab Jataka kita dapat sedikit cerita tentang kehidupan para aristokrat itu. Siddharta hidup di tiga istana, terlindung dari dunia luar yang tak secantik dan setenteram Keraton Kapilavastu. Ada 40.000 penari untuk menghiburnya. Ketika ia dewasa, 5.000 wanita dikirim ke hadapannya untuk dipilih. Dan Siddharta pun menikah. Ia jadi ayah yang hidup mewah dan nyaman.

Tapi kemudian ada kisah yang termasyhur itu: dalam sebuah perjalanan di luar istana, sang pangeran melihat dunia yang selama ini tertutup dari dirinya: seorang tua, seorang yang sakit, dan seorang yang mati. Siddharta terkejut, ia tersadar: ternyata manusia, juga dirinya, akan jadi tua, bisa sakit, dan akan meninggal. ”Semua ke riangan masa mudaku tiba-tiba raib,” tutur sang pa ngeran kemudian. Sejak itu ia pun mencari jawab tentang kodrat ”usia tua, sakit, kesedihan, dan ketakmurnian”—keadaan yang tak akan bisa dielakkan siapa pun yang lahir di dunia. Ia pun merasa perlu ”menemukan yang tak dilahirkan”. Dan itu adalah ”puncak kedamaian Nirwana”.

Cerita itu begitu terkenal hingga kita lupa untuk bertanya: pada saat itu, di manakah agama yang bisa menjawab kegelisahan Siddharta?

Mungkin tak ada. Di bawah Pegunungan Himalaya, sekitar 400 tahun Sebelum Masehi, tampaknya orang tak mendengarkan kitab suci lagi. Upanishad digugat, para pendeta dicemooh.

Dalam salah satu jilid The Story of Civilization, Will Durant mengutip Chandogya Upanishad, yang menyamakan para Brahmana ortodoks dengan barisan anjing: masing-masing memegang ekor anjing sebelumnya. Swasanved Upanishad bahkan menyatakan tak ada tuhan (dewa), tak ada surga, neraka, dan reinkarnasi. Kitab-kitab Veda dianggap cuma karangan orang-orang geblek yang congkak; khalayak ramai patuh karena dibuai kata yang berbunga-bunga untuk menopang dewa, kuil, dan orang ”suci”.

Saat itu, para penghujat dewa dan pendeta beredar di mana-mana: para Nastik, kaum nihilis, para Sangaya. Satu kelompok besar Paribhajaka (”Pengembara”) berjalan dari kota ke kota, dusun ke dusun, mencari murid atau lawan filsafat. Mereka mengajarkan logika sebagai kiat membuktikan pendapat, atau menunjukkan bahwa Tuhan tak pernah ada. Di samping mereka, ada kaum Charvaka, atau kaum ”materialis”, yang menertawakan kepercayaan bahwa Veda itu ilham para dewa. Bagi me reka, yang bisa diyakini ada hanya yang dapat diketahui lewat pancaindra. Materi adalah satu-satunya. Realitas. Tak ada keabadian. Tak ada kelahiran kembali. Tujuan hidup adalah hidup itu sendiri. Agama hanya pengisi rasa kekosongan.

Mereka inilah yang pelan-pelan menguras sudut-sudut India dari pengaruh kitab-kitab suci. Sekaligus melumpuhkan pengaruh kasta Brahmana di masyarakat. Dari sini pula tumbuh keyakinan baru, dimulai oleh kasta lain, para kesatria, yang tak bersandar pada struktur kependetaan dengan teologi yang berpusat pada adanya Yang Maha Pencipta. Bagi keyakinan baru ini, ada atau tak adanya Tuhan bukan persoalan penting.

Ketika Siddharta berangkat dewasa, suasana pasca-Veda itulah yang berkembang. Tak mengherankan bila ia tak mengandalkan kitab apa pun untuk menjawab ke gundahannya. Dan tak mengherankan pula bahwa ketika ia mendapat ”pencerahan” dan jadi Buddha, ajarannya bergema cepat.

Para pengikut datang mungkin juga karena Sang Buddha bisa menunjukkan jalan bagi sebuah masyarakat di mana samsara bukan saja sebuah konsep filsafat. Ke sadaran tentang itu bertolak dari hidup sehari-hari. Di India, apalagi pada masa itu, lahir, sakit, tua, dan mati bukanlah peristiwa asing di jalan-jalan.

Tapi itu bukanlah akhir cerita. Buddhisme bukan seluruhnya sebuah negasi agung. Sang Guru mengumandang kan sesuatu yang mampu melampaui tema kesedihan pasca-kelahiran itu: dalam ajarannya tak ada patah-arang yang radikal terhadap hidup. Buddha tak menganjurkan sikap asketis yang ekstrem; ia menolak bunuh diri sebagai pilihan.

Silence : Ketika Tuhan Membisu

Kegagalan, penderitaan, penyakit, penolakan dan bencana alam bisa menimpa diri siapa saja. Penderitaan dan kesepian terkadang mengerogoti hati, iman dan jiwa. Rintihan pilu doa-doa yang dinaikkan kepada Sang Maha Kuasa seperti tertiup angin dan hilang begitu saja. Tuhan seperti membisu melihat penderitaan kita. Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul,  adalah ”Mengapa Tuhan membisu?”, “Mengapa Dia Yang Maha Kuasa tidak berbuat apa-apa?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul berulang kali dalam novel yang ditulis oleh Shusaku Endo. Seperti yang diteriakkan oleh Ferreira dengan suaranya yang meninggi lebih terdengar seperti geraman, “ Dengarlah! Aku ditempatkan di sini dan aku mendengar suara orang-orang itu dan Tuhan tidak berbuat apa-apa. Tuhan tidak bertindak sedikitpun. Aku berdoa dengan sepenuh kekuatanku. Tapi Tuhan tidak berbuat apa-apa.”

Kita mungkin pernah berteriak seperti Ferreira. Ketika mengalami penderitaan, kesakitan, kesepian dan kegagalan. Atau kita pernah menggugat Tuhan ketika melihat kemiskinan, penderitaan, bencana alam serta kesakitan di sekitar kita. Setiap orang mungkin pernah mengalami pergumulan dan pertarungan antara iman dengan diri sendiri. Benarkah Tuhan memang tidak bertindak apapun?

Trisno S. Sutanto dalam Kompas 12 April 2009 menuliskan bahwa novel yang berjudul Silence ini tentang kebisuan Tuhan. Bahwa problem teodise itulah yang terus muncul pada hampir sebagian besar novel Silence. Kebisuan itulah, bukan pengalaman di ”lubang penyiksaan” mengerikan, yang membuat Ferreira meninggalkan imannya. Sementara pada Rodrigues, sebagai protagonis Endo, kita menemukan sikap lebih bernuansa. Rodrigues juga mengalami pengalaman kebisuan Allah yang mengerikan, dan bahkan menginjak-injak fumie, gambar wajah Yesus atau Bunda Maria di atas lempengan perunggu, bukti penyangkalan imannya. Apa yang mendorong dia menginjak fumie justru suara Kristus. ”Injaklah! Injak!” kata wajah di fumie itu padanya. ”Aku lebih tahu daripada siapa pun tentang kepedihan di kakimu. Injaklah! Aku lahir ke dunia memang untuk diinjak-injak manusia. Untuk menanggung penderitaan manusialah Aku memanggul salibku.”

Berlatar belakang Jepang abad ke-17, periode Edo, Silence mengisahkan perjalanan nasib Sebastian Rodrigues, Yesuit Portugis yang dikirim ke Jepang untuk membantu Gereja setempat dan untuk mencari tahu keadaan mantan gurunya, Ferreira, yang dikabarkan telah murtad karena tidak tahan  menanggung siksaan. Pada zaman ketika Kristianitas dilarang keras di Jepang, dan para penganutnya dikejar-kejar, dipaksa menjadi murtad, dan dibunuh, bukan hal mudah bagi Rodrigues untuk bertahan hidup, apalagi Tuhan yang selama ini dianggapnya sumber kasih seolah bungkam dan hening, tidak berbuat apa-apa.

Dalam situasi seperti itu, mungkin kita juga pernah menginjak-injak wajah Kristus, seperti yang diungkapkan Kichijiro dengan berlinang air mata,  “Bapa, saya telah mengkhianatmu. Saya telah menginjak-injak gambar Kristus. Di dunia ini ada orang yang kuat dan ada yang lemah. Yang kuat tidak pernah menyerah walaupun disiksa, dan mereka masuk surga. Tapi bagaimana dengan orang-orang seperti saya ini, yang dilahirkan lemah, orang-orang yang ketika disiksa dan diperintahkan untuk menginjak-injak gambar suci…”

Pada akhirnya, pertanyaan yang utama adalah: sanggupkah manusia mempertahankan keyakinannya di tengah masa-masa penuh penganiayaan? Dan benarkah Tuhan hanya diam berpangku tangan melihat penderitaan?

Seperti pertarungan hati Rodrigues, “Hentikan! Hentikan! Tuhan, sekaranglah kau harus menghentikan keheninganmu. Kau tidak boleh bungkam. Buktikan kau adil, maha baik, penuh kasih. Kau harus membuka suara, untuk menunjukkan pada dunia bahwa Kau Maha Kuasa.”

Dan pernahkah kita juga berani bertanya pada diri kita sendiri apakah kita mencintai-Nya hanya ketika semua keinginan kita dipenuhi, ketika hidup kita berjalan dengan baik. Apakah kita mencintai-Nya hanya ketika Dia menjawab semua doa-doa kita?

“Tuhan, aku benci kebungkamanmu”. Demikian dialog batin Rodrigues  di akhir novel ini.

“AKU tidak bungkam. AKU ikut menderita di sampingmu.” Demikian kata Tuhan dengan suara Nya yang penuh belas kasihan.

Selamat Merayakan Kasih Pengorbanan Nya.

Bermain pada Anak Usia Dini

Sebagian besar waktu anak-anak, dihabiskan dengan kegiatan bermain. Bermain merupakan aktifitas yang menyenangkan untuk dilakukan. Dengan bermain anak dapat belajar banyak hal, seperti meningkatkan kemampuan afiliasi dengan teman sebayanya, meningkatkan kemampuan eksplorasi baik terhadap informasi maupun lingkungan di sekitarnya dan meningkatkan aspek-aspek perkembangan kognitif yang lainnya.

Beberapa ahli menyebutkan tentang manfaat positif dari bermain pada anak usia dini. Sigmund Freud dan Erik Eriksonn menyebutkan bahwa bermain akan membantu anak mengatasi kecemasan dan konflik. Ketegangan yang dialami mereka akan mengendur dalam permainan. Dengan bermain, anak akan dapat menyalurkan kelebihan energy fisik dan melepaskan emosi yang tertahan, sehingga diperkirakan dapat meningkatkan kemampuan anak dalam menghadapi masalah.

Jean Piaget melihat bahwa bermain akan mendorong perkembangan kognitif anak.  dengan bermain anak kemungkinan dapat mempraktekkan kompetensi dan keahlian mereka dengan cara yang lebih rileks dan menyenangkan.

Ada beberapa jenis permainan anak yang diklasifikasikan oleh Mildred Parten yaitu :

a)      Unoccupied Play,  bukanlah permainan seperti yang pada umumnya kita pelajari. Anak mungkin berdiri di satu tempat atau melakukan gerakan acak yang tampaknya tidak memiliki tujuan. Pada kebanyakan anak prasekolah, jenis permainan ini jarang dimainkan.

b)      Solitary Play, terjadi ketika anak bermain sendiri dan mandiri dari orang lain. Anak terlihat asyik dengan aktifitasnya dan tidak terlalu mempedulikan hal lainnya terjadi. Anak-anak pada usia 2 dan 3 tahun lebih sering melakukan permainan ini, dibandingkan dengan anak yang lebih tua.

c)      Onlooker Play, terjadi ketika anak memperhatikan permainan anak lain. Anak mungkin berbicara dan bertanya dengan anak lain, namun tidak terlibat dalam permainan. Minat anak terhadap permainan tema lain membedakan dari unoccupied play dan solitary play.

d)      Parallel Play, terjadi ketika anak bermain terpisah dari anak-anak lain, tetapi dengan permainan yang sama dengan yang dimainkan anak lain dan dengan cara yang menirukan permainan anak lain. Semakin tua usia anak, semakin jarang ia melakukan jenis permainan ini.

e)      Associative Play, melibatkan interaksi sosial dengan sedikit atau tanpa pengaturan. Dalam tipe permainan ini, anak kelihatan lebih tertarik pada satu sama lain dibandingkan pada permainan yang mereka mainkan. Meminjam atau meminjamkan mainan dan mengikuti atau memimpin satu sama lain adalah termasuk dalam jenis permainan ini.

f)       Cooperative Play, terdiri dari interaksi sosial dalam satu kelompok dibarengi dengan adanya perasaan identitas kelompok dan aktifitas terorganisir, permainan formal anak-anak, kompetisi dengan sasaran kemenangan dan kelompok-kelompok yang dibentuk oleh guru untuk melakukan suatu hal bersama-sama. Jenis ini lebih banyak dilakukan pada masa pertengahan kanak-kanak, jarang pada anak usia prasekolah.

Depresi Pada Masa Kanak-Kanak

Pada masa kanak-kanak, perilaku yang berhubungan dengan depresi seringkali lebih kompleks jika dibandingkan dengan pada orang dewasa, hal ini menyebabkan diagnosanya menjadi lebih sulit. Banyak dari anak yang depresi menunjukkan agresi, kecemasan, prestasi yang buruk di sekolah, perilaku antisocial, dan juga hubungan yang buruk dengan teman sebaya.

John W. Santrock mengatakan bahwa depresi merupakan gangguan mood (suasana hati) dimana seseorang merasa tidak bahagia, tidak bersemangat, memandang rendah diri sendiri dan merasa sangat bosan. Individu merasa selalu tidak enak badan, gampang kehilangan stamina, selera makan yang buruk, tidak bersemangat dan tidak memiliki motivasi.
Penyebab timbulnya depresi pada masa kanak-kanak adalah biologis, kognitif dan lingkungan. John Bowlby menyatakan bahwa attachment yang insecure, kurangnya cinta kasih dan afeksi dalam pengasuhan anak, atau kehilangan orang tua pada masa kanak-kanak mengakibatkan anak mengembangkan skema kognitif yang negative. Skema ini akan terus dibawa dan mempengaruhi bagaimana pengalaman yang akan datang diinterpretasikannya. Ketika pada pengalaman yang akan datang anak juga mengalami kehilangan tertentu, anak akan menginterpretasikan kehilangan ini sebagai kegagalan dalam membina hubungan positif dan biasanya hal ini akan menyulut timbulnya depresi.

Dalam pandangan kognitif Aaron Beck, individu akan depresi jika pada masa awal perkembangannya mereka membentuk skema kognitif yang ditandai dengan devaluasi diri dan tidak percaya diri mengenai masa depan. Mereka biasanya memiliki pemikiran-pemikiran yang negative dan pemikiran negative ini akan meningkatkan pengalaman negative dari individu tersebut. Anak yang depresi akan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Dalam pandangan Beck, depresi pada anak dilihat sebagai hasil perkembangan dari dua kecenderungan kognitif, yaitu : a). anak terlalu memperhatikan petunjuk negative di lingkungan, b). anak mengindentifikasi diri mereka sebagai sumber dari kejadian.

Teori dari Martin Seligman mengenai depresi adalah learned helplessness. Yaitu ketika seorang individu mengalami pengalaman negative hal tersebut, seperti ketika dihadapkan dengan stress dan rasa kesakitan yang panjang, mereka akan lebih mungkin untuk mengalami depresi. Depresi akan terjadi setelah suatu peristiwa negative dimana individu menjelaskan peristiwa tersebut dengan atribusi yang menyalahkan diri sendiri. Mereka menyalahkan diri sendiri karena menyebabkan peristiwa tersebut. Dengan model penjelasan seperti ini akan menghasilkan ekspektasi bahwa tidak ada perilaku yang dapat dilakukan untuk mengontrol hasil dari peristiwa yang sama di masa yang akan datang, yang menyebabkan ketidakberdayaan, tidak ada harapan, sikap pasif dan depresi.

Jesus Menonton Pertandingan Sepakbola

Jesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajak Nya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.

Kesebalasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya : “Saudara berteriak untuk pihak yang mana?”

“Saya?” jawab Jesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. “oh, saya tidak bersoarak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.”

Penanya itu berpaling kepada teman di sebelahnya, sambil mencemooh Jesus, katanya : “Atheis!”

Sewaktu pulang, Jesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. “Orang-orang beragama itu anah, Tuhan. Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.”

Jesus mengangguk setuju, “Itu sebabnya Aku tidak mendukung agama. Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya,” katanya. “Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting dari hari Sabat.”

“Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kata-Mu,” kata salah seorang diantara kami dengan was-was. “Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu.”

“Ya, dan justru itu dilakukan oleh orang-orang beragama,” kata Jesus sambil tersenyum kecewa.

Burung Berkicau – Anthony De Mello

Patience to be Patient

Read : Psalm 130 : 1 – 8

“I wait for the Lord, my soul waits, and in His Word I do hope.”–Psalm 130 : 5

Children want things now : “But want dessert now!” “Are we there yet?” “Now can we open our presents?” In contrast, as we get older we learn to wait. Medical students wait through training. Parents wait in hopes that the prodigal will return. We wait for what is worth waiting for, and in the process we learn patience.

God, who is timeless, requires of us a mature faith that may involve delays that seem like trials. Patience is one sign of that maturity, a quality that can develop only through the passing of time.

Many prayers in the Bible come out of the act of waiting. Jacob waited 7 years for a wife and then worked 7 more after being tricked by her father (Genesis 29 : 15 – 20). The Israelites waited 4 centuries for deliverance; Moses waited 4 decades for the call to lead them, then 4 more decades for a promised land he would not enter.

“My soul waits for the Lord more than watchmen wait for the morning” wrote the psalmist (Ps.130 : 6 NIV). The picture comes to mind of a watchman counting the minutes for his shift to be over.

I pray for the patience to endure times of trial, to keep anticipating, keep hoping, keep believing. I pray for the patience to be patient.

by Philip Yancey (Our Daily Bread, May 14 2011)

Ada yang Lebih Tabah dari Hujan Bulan Juni

sebuah puisi dari Agus Noor

Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu

Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu

Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.

Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan

Saat kau terisak menahan tangis, ia yang lebih bijak dari bulan Juni, merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, hingga kau semakin memahami: betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri

Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, tanpa sekali pun pernah kau menyadari, ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega

Ketika senja, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tanpa pernah kau menyadari, meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan, hingga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan

Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, tanpa pernah kau menyadari, menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, dan kau bersyukur pada segala yang sebentar

Dan ketika kau tidur, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tak lelah berjaga: dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu

Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, dan lebih arif, tetapi kau tak pernah menyadari, meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu


Saya Terbakar Amarah Sendirian

“Jawanisme adalah taat dan setia kepada atasan, yang pada akhirnya menjurus kepada fasisme. Prinsipnya taat dan setia yang membabi buta kepada atasan dan tidak memikirkan pihak lain sama sekali. “ demikian sekelumit ungkapan dari seorang Pramoedya Ananta Toer yang tertera halaman 45.  Pram menambahkan bahwa hal inilah yang membuat pulau Jawa dijajah oelh berbagai bangsa asing selama berabad-abad, karena kaum elit Jawa berkolusi dengan kekuatan kolonial yang mencari rempah-rempah.

Rakyat tidak berani menentang baik kaum elit maupun para penjajahnya. Bahkan dalam bahasa Jawa juga dibuat sangat bertingkat-tingkat dan diciptakan untuk memuliakan atasan. Menurut Pram, ketika diterjemahkan ke dalam politik, jadilah fasisme. Fasisme tidak memperbolehkan adanya oposisi atau perlawanan.

Ketidaksukaan Pram terhadap Jawanisme ataupun budaya Jawa yang menunjukkan “sesuai petunjuk atasan” atau “asal bapak senang” terungkap dari perbincangan dalam buku ini. Prinsip Jawanisme ini merupakan akar dari kolusi, korupsi dan nepotisme yang terjadi baik dalam masyarakat maupun dalam kehidupan berpolitik.

Suaranya yang lantang dan lugas mengungkap pandangannya mengenai kudeta 1965 serta keterlibatan Amerika Serikat dalam peristiwa ini. Ia juga bersuara kritis terhadap Soeharto bersama rezimnya, Timor Leste dan Aceh, serta mengenai masa depan Indonesia. Berkaitan dengan masa penahanannya di pulau Buru selama 10 tahun, ia mengungkapkan bahwa bagaimana dalam masa-masa sulitnya ia dapat menghasilkan novelnya yang paling terkenal yaitu “Tetralogi Buru”.

Ketika ditanya tentang apakah ia percaya kepada agama, dengan lugas ia menjawab, “Saya hanya percaya kepada diri saya. Dan dengan berjalannya waktu, saya tahu bahwa saya hanya bisa bergantung pada diri saya sendiri. Saya ditahan orde baru selama 34 tahun di penjara dan kamp konsentrasi, dan Tuhan tidak pernah menolong saya. Orang-orang datang kepada Tuhan untuk mengemis. Menurut  saya berdoa itu sama dengan mengemis.” (hal  16).

Menurut Chris Gowilt, dalam kata pengantar buku ini, mengungkapkan bahwa dalam buku ini kita dapat mendengar suara Pram dengan lantang dan jelas. Namun suara yang keluar ini tidak bisa dikatakan sebagai suara yang berdamai dengan dunia. Apa yang direkam di dalam  buku ini adalah kelanjutan apa yang ditulis oleh Pram di dalam buku-bukunya – sikap membangkang, menolak, menantang, tak kenal kompromi menyangkut kebebasan dan nalar, serta indiviualisme yang disebut dengan “Pramisme”.

Saya sendiri bukan pembaca setia semua buku Pram, namun buku ini memberikan banyak pemahaman mengenai bagaimana kebermaknaan hidup dalam pandangan seorang yang memiliki latar belakang yang penuh dengan liku-liku. Sangat menarik juga mengenai pandangannya tentang kehidupan dan sejarah perjalanan politik bangsa ini dari sudut yang berbeda.

Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini yang merupakan hasil perbincangan  dengan Andre Vitchek, seorang penulis, analis politik, pembuat film dan wartawan yang berasal dari Amerika Serikat. Ia bersama Rossie Indira, seorang arsitek, analis bisnis, dan aktif menulis di berbagai surat kabar dan majalah, menyusun hasil wawancaranya  menjadi sebuah buku.

Sebuah buku yang menarik bagi anda yang tengah terbakar amarah sendirian, apakah kemarahan tertuju kepada hidup, masa lalu, Tuhan atau terlebih lagi kepada pemerintah yang tengah berkuasa. Saya terbakar amarah sendirian.