Bermain pada Anak Usia Dini

Sebagian besar waktu anak-anak, dihabiskan dengan kegiatan bermain. Bermain merupakan aktifitas yang menyenangkan untuk dilakukan. Dengan bermain anak dapat belajar banyak hal, seperti meningkatkan kemampuan afiliasi dengan teman sebayanya, meningkatkan kemampuan eksplorasi baik terhadap informasi maupun lingkungan di sekitarnya dan meningkatkan aspek-aspek perkembangan kognitif yang lainnya.

Beberapa ahli menyebutkan tentang manfaat positif dari bermain pada anak usia dini. Sigmund Freud dan Erik Eriksonn menyebutkan bahwa bermain akan membantu anak mengatasi kecemasan dan konflik. Ketegangan yang dialami mereka akan mengendur dalam permainan. Dengan bermain, anak akan dapat menyalurkan kelebihan energy fisik dan melepaskan emosi yang tertahan, sehingga diperkirakan dapat meningkatkan kemampuan anak dalam menghadapi masalah.

Jean Piaget melihat bahwa bermain akan mendorong perkembangan kognitif anak.  dengan bermain anak kemungkinan dapat mempraktekkan kompetensi dan keahlian mereka dengan cara yang lebih rileks dan menyenangkan.

Ada beberapa jenis permainan anak yang diklasifikasikan oleh Mildred Parten yaitu :

a)      Unoccupied Play,  bukanlah permainan seperti yang pada umumnya kita pelajari. Anak mungkin berdiri di satu tempat atau melakukan gerakan acak yang tampaknya tidak memiliki tujuan. Pada kebanyakan anak prasekolah, jenis permainan ini jarang dimainkan.

b)      Solitary Play, terjadi ketika anak bermain sendiri dan mandiri dari orang lain. Anak terlihat asyik dengan aktifitasnya dan tidak terlalu mempedulikan hal lainnya terjadi. Anak-anak pada usia 2 dan 3 tahun lebih sering melakukan permainan ini, dibandingkan dengan anak yang lebih tua.

c)      Onlooker Play, terjadi ketika anak memperhatikan permainan anak lain. Anak mungkin berbicara dan bertanya dengan anak lain, namun tidak terlibat dalam permainan. Minat anak terhadap permainan tema lain membedakan dari unoccupied play dan solitary play.

d)      Parallel Play, terjadi ketika anak bermain terpisah dari anak-anak lain, tetapi dengan permainan yang sama dengan yang dimainkan anak lain dan dengan cara yang menirukan permainan anak lain. Semakin tua usia anak, semakin jarang ia melakukan jenis permainan ini.

e)      Associative Play, melibatkan interaksi sosial dengan sedikit atau tanpa pengaturan. Dalam tipe permainan ini, anak kelihatan lebih tertarik pada satu sama lain dibandingkan pada permainan yang mereka mainkan. Meminjam atau meminjamkan mainan dan mengikuti atau memimpin satu sama lain adalah termasuk dalam jenis permainan ini.

f)       Cooperative Play, terdiri dari interaksi sosial dalam satu kelompok dibarengi dengan adanya perasaan identitas kelompok dan aktifitas terorganisir, permainan formal anak-anak, kompetisi dengan sasaran kemenangan dan kelompok-kelompok yang dibentuk oleh guru untuk melakukan suatu hal bersama-sama. Jenis ini lebih banyak dilakukan pada masa pertengahan kanak-kanak, jarang pada anak usia prasekolah.